“Dunia yang sedikit lebih adil dan sedikit lebih damai bisa kita
wujudkan”
Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia ke-6
Kini sudah terlihat di depan mata, banyak terjadi masalah di tengah-tengah masyarakat dunia. Layar kaca yang ada di dalam rumah setiap keluarga memberitakan banyak sekali permasalahan dan di antaranya tidak jarang berisi kekerasan tanpa batas hingga perang tanpa habis-habisnya. Sedari dulu dalam kenyataannya manusia tidak pernah selesai dengan nafsunya sendiri. Penuh ambisi, penuh hasrat, dan juga penuh dengan cita-cita. Namun tidak dapat pula dipungkiri, pelampiasan dari itu semua dilakukan dengan implementasi yang tidak manusiawi. Terlebih pula, tidak mempedulikan ada pertumpahan darah atau tidak. Banyak bangsa saling serang, hingga banyak sekali kubu di dunia ini dalam sejarahnya tidak pernah selesai dengan apa yang diinginkan. Ekspansi, invasi, sampai penjajahan terus menerus terjadi demi mengukir sejarah mana yang akan diturunkan pada peradaban manusia masa depan.
Di Indonesia sendiri pun begitu. Terbentang luas pulau antar pulau yang membentuk archipelago. Lautan yang menghiasi tengahnya membersamai ikan serta hewan laut yang berenang di dalamnya, sampai ratusan gunung tinggi nan indah di daratan-daratan nusantara menciptakan pemandangan yang tak bisa ditolak oleh mata secara mentah-mentah. Hal-hal tersebut menunjukkan betapa kayanya negeri kita ini dengan segala nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Hingga bukan hanya itu saja yang menjadi kebanggaan kita, masih banyak lagi yang tidak bisa kita dapatkan di sudut dunia manapun hingga tidak ada satu bangsa pun yang memiliki keunikan seperti halnya kita. Namun, akhirnya kita balik lagi pada kalimat pertama. Di Indonesia sendiri pun begitu, tidak seluruh rakyatnya dapat mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa.
Kebutuhan manusia yang beragam tentunya menjadi beban tersendiri dalam menjalani kehidupan. Memenuhi segala yang dibutuhkan sesungguhnya mudah, asalkan tidak pesimis dengan rezeki yang dapat Tuhan berikan di setiap harinya. Kemiskinan mungkin saja tidak bisa diberantas, namun bukan berarti tidak bisa kita tanggulangi. Faktor-faktor tersebut tentunya krusial untuk menjadi fondasi dapat bertahannya bangsa kita untuk mengantarkan dirinya pada dunia yang adil dan damai. Bagaimana mewujudkannya? Bagaimana kita dapat membuka pintu gerbang kesejahteraan tersebut? Bagaimana kita bisa bersaing di dunia global yang penuh tantangan ini? hanya ada satu jawaban, yakni pendidikan untuk membangun manusia berakal.
Jika kita berkelana, dari politisi menuju aktivis politik lainnya, kita akan menemukan semuanya menjawab untuk mencapai dunia yang adil dan damai itu bergantung pada kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya, dan faktor-faktor lainnya. Hal yang kita lupakan adalah modal yang paling dasar adalah bagaimana membuat manusia-manusia nusantara kita ini cerdas secara intelektual, emosional, dan begitu pula kehidupan spiritualnya. Tak elok bila kita selalu menyalahkan pemerintah apabila kita selalu mengkritisi bahwa hal yang telah terjadi pada bangsa ini hanya bergantung pada para pemangku jabatan. Pengambilan kebijakan dan pembentukan peraturan tentunya memang berasal dari para pejabat pemerintahan tersebut, namun tentunya kita sebagai rakyat harus bisa mengambil peran dengan memberikan kontribusi … walaupun dari keterlibatan sekecil apapun.
Ketika kita sudah berfokus dalam membangun anak bangsa yang cerdas secara intelektual, kita tentunya mendapatkan sumber-sumber daya manusia yang pintar dan layak bersaing di kancah apapun. Tentunya ilmu pengetahuan yang mereka miliki akhirnya mampu membantu bangsa ini untuk tetap utuh sebagaimana mestinya. Sebagai contoh konkret, tentunya di depan panggung dunia seperti Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kita membutuhkan diplomat yang handal secara argumentasi serta berprinsip teguh. Hal tersebut tentunya dibangun dari pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. Secara otomatis, dunia akan membaca negara kita sebagai negara yang mampu merepresentasikan keadilan dan mengedepankan perdamaian dunia. Begitu pula ketika kita menguatkan mental mereka secara emosional, kita bisa mendapatkan hasil-hasil yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tentara-tentara negara kita yang digembleng dengan keras tidak hanya keras yang membara tanpa alasan. Tentunya jika dibangun kesadaran emosional yang pasti bagi mereka, mental pantang menyerah akan kuat dalam hati setiap insan bangsa. Membela negara menjadi prioritas dan sikap nasionalisme pun menjadi nilai hebat untuk Indonesia agar disegani dunia. Hingga akhirnya secara spiritual, kesadaran atas inginnya dunia yang adil dan damai dapat menjadi visi yang hebat bagi setiap individu bangsa Indonesia.
Dengan cita-cita mulia tersebut, kita tidak akan tergiur dengan menyakiti bangsa lain. Kita pun tidak akan membawa diri pada peperangan tiada batas dan tanpa kejelasan apa yang menjadi tujuan. Hal-hal tersebut tentunya harus saling berdampingan, ketika kita menimbang pula dalam Pembukaan UUD 1945 alinea pertama yang menyebutkan: “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan”. Jika ada negara yang ditindas di muka bumi ini, kita harus dapat melihat dan peka atas keburukan apa yang terjadi serta membersamai mereka dalam perjuangan untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia. Hingga akhirnya, nilai terpenting dari segala hal ini adalah dunia yang sedikit lebih adil dan sedikit lebih damai bisa kita wujudkan dengan membangun manusia yang berakal secara pikiran, hati, dan cita-cita yang mulia.
Comments
Post a Comment