Dia Masih Ingin Bersenang-Senang


Rindu yang jatuh di kamarku, hanyalah rindu yang datang padamu :

-
Dia masih ingin tertawa mesra dengan yang di sana, jadi kau tak perlu terlalu banyak berharap. Jangan bayangkan dirimu akan bisa tertawa dengannya karena mungkin waktunya bukan sekarang. Dia masih duduk berdua dengan yang ia cinta sekarang, namun bukan berarti kamu tidak akan bisa berada di sisinya. Setidaknya untuk sekali lagi. Biarkan dia terbahak-bahak dulu dengan rasa cintanya itu, supaya akhirnya kau akan mengerti betapa punya arti ketika kau mampu melihat semua ini.

-
Banyak fenomena alam yang muncul dan bertimbulan bagai air yang keruh. Terus-terusan kotor namun tetap berani mengalir. Ia tak malu mengakui dirinya yang tidak paling bersih, namun ia tetap optimis menjalani apa saja yang ada. Sampai-sampai ketika hujan turun sekali pun, ia ikut mengajak hujan bergabung dengannya. Sekian banyak air lain yang mengalir, ia tetap berada di parit. Berpikir ini bukanlah yang terburuk tapi suatu saat akan ada waktunya berubah kembali menjadi jernih. Dari situlah ia berangkat, menuju sungai… menuju danau… dan akhirnya berada di air terjun terindah di muka bumi. Ia menemukan bahwa seberat apapun posisi kita, akhirnya bisa menjadi indah.

-
Mereka masih berpesta di acara sana. Berpegangan tangan seperti yang kau harapkan, mengobrol mesra seperti yang kau inginkan. Apalagi, terkekeh manja sambil saling mencubit. Itu benar-benar akan membuatmu kesakitan. Jangan pernah kau bayangkan hal yang buruk, jalankan saja apa yang sedang dijalani. Lanjutkanlah perihal apa yang pernah membuat kita bahagia selain dia. Semoga dari itu kita mengerti bahwa waktu yang berjalan dan segala hal yang meliputinya akan padam suatu saat. Termasuk mereka yang sedang kau kagumi dari jauh itu.

-
Siapa sangka ketika aku mengira
Rumah yang lama kini sudah ditempati
Siapa sangka ketika aku mengira
Rumah yang lama ditempati kawan sendiri

-
Akan menjadi berat, ketika kau tahu cintamu ternyata selama bertahun-tahun ini terbagi atas perasaan dengan orang yang juga kau sayangi secara dalam. Sahabat sendiri mungkin. Tapi apa daya persahabatan lebih penting daripada yang kau kira hanya untuk masalah egoisme hati. Biarkan dia bersenang-senang, kau cari kesenangan yang lain. Masih ada beribu acara di dunia ini, carilah yang paling membuatmu tenang. Karena hati juga butuh penginstalan ulang, dan sepertinya kau harus perbaiki iman terlebih dahulu.

-
Semuanya bisa berbahagia dengan cara masing-masing. Orang yang paling disakiti sekalipun masih bisa kita buat ia tertawa. Untuk apa manusia sepertimu yang sakitnya tidak seberapa, hanya karena cinta, murung dan berpikir dunia sudah mau berakhir begitu saja. Tidak semudah itu kawan. Ketika ada rumah yang perlu kau singgahi, bukan berarti pergi akan merugikanmu. Justru di situlah ada petualangan tentang hidup dan resikonya. Dan belajar mengerti apa yang akan terjalani di kisah yang akan datang.

-
Dia seperti kura-kura
Yang berjalan lambat membawa rumahnya
Sepertinya dia berpura-pura
Tampak sedang mencintai tapi tak seutuhnya

-
Akan ada rumah baru untukmu, yang lebih indah darinya. Akan ada bahu yang lebih nyaman daripadanya dan akan ada jari jemari yang lebih hangat dari punyanya. Setidaknya bila kau bersabar, di situlah akan tersiar hidup ini akan mengarah ke mana. Menjiwai dirimu dengan berbagai kabar bahagia, bersyukur dengan apa yang ada hari ini, dan merelakan apa saja yang membuat sakit hati. Itulah yang harus diperjuangkan.

-
Tidak ada hari esok untuk hari ini jika tidak bahagia detik ini. Tidak ada hari lusa untuk besok jika tidak bahagia detik ini. Tidak ada bulan depan untuk tahun yang akan datang, jika tidak bahagia detik ini. Lepaskan, bersabarlah dengan apa yang mengganggu pikiranmu. Ketika cinta itu masih bisa terbagi, cobalah sekarang. Bagilah cintamu kepada semua orang dengan berbagai macam cara. Jangan ributkan di diri sendiri mengenai apa yang akan dibilang. Mereka yang mengomentari itulah yang tak punya nurani.

-
Sabar, sahabatmu menjaganya. Sabar, hatimu kau yang jaga. Sabar, dia masih ingin bersenang-senang sekarang…

Comments