-
Aku datang dengan sengaja, untuk mencari tahu apakah benar kau mencintaiku. Untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi, apakah benar kau menyayangiku. Salahku berada di situ ketika aku datang dengan sengaja dan tanpa kesengajaan kau pun membalas semua ini. Dengan mengharap bahwa aku yang akan benar-benar mencintaimu dengan utuh, ternyata aku yang berbohong setelahnya.
-
Ternyata cerita dari orang-orang itu benar. Karena kulihat engkau mempesona makanya aku tertarik juga padamu. Tapi aku tidak mengerti batas yang seharusnya kujaga, mengenai diriku yang seharusnya bisa mengatur kapan tepatnya waktu yang bisa disesuaikan. Bahwa aku belum sepenuhnya padamu dan kau pun juga bukan orang yang suka bercanda dan bermain-main saja. Ketika sudah tampak wajahmu itu menandakan rasa suka, aku mulai mengakui hal yang seharusnya.
-
Berminggu-minggu setelah kita menjadi dekat, orang-orang pun mulai tahu bagaimana hubungan kita sebenarnya. Sebatas abang-adik kah? sebatas kakak kelas? atau memang ada yang lebih dari itu, kita juga tidak tahu. Ketika aku dipaksa mengungkapkan rasa itu, aku mulai berteman dengan keraguan. Berteman dengan ketidakjelasan, dan mulai bersekolah di rasa kecewa. Aku mempelajarinya agar bisa mengerti rasa yang pasti. Bahwa aku bukan orang yang mau sembarangan menyakitimu hanya karena cinta.
-
Sembarang waktu kita berjumpa. Berdua menyapa sambil kedua mata memandang seksama. Tatapan yang tulus itu aku tengok dengan benar, kedua matamu memutar-mutar tanda canda. Aku pun akhirnya tertawa. Bukan menertawakan caramu melawak, tapi melihat betapa lucunya kamu ketika dalam situasi seperti itu. Ingin sekali tidak akan pernah meninggalkanmu sebagai orang yang bisa saja aku sia-siakan di masa yang akan datang.
-
Ada tujuan lain. Ketika aku mengerti kau ingin dekat denganku untuk menjadi pintar. Bukan pintar menggalau, tentu saja. Namun pintar yang benar-benar pintar, akademis dan teman-temannya. Melihatku banyak usaha kau mungkin saja terpukau, sampai lupa kalau akhirnya kita yang harus pintar-pintar menata perasaan yang akan terbentuk. Kita mulai mengerti kalau waktu akan bertemu pada detik yang sudah ditentukan Tuhan. Akhirnya di posisi sekarang ini, kita berdua diam seribu bahasa, tanpa kabar sekian puluh kepastian.
-
Kamu di mana? apa masih ada di relung hatiku
Kamu ke mana? apa masih ada di relung hatiku
Kamu dari mana? apa masih ada di relung hatiku
Ku tanyakan berulang-ulang, karena aku tak tahu posisi hati sendiri di cerita kita ini.
-
Sekian rasa heran, tiba-tiba situasi yang paling membingungkan itu hadir. Ketika aku berpura-pura meminta maaf untuk mengetahui secara pasti masalah kita, kau malah bilang aku tak ada salah. Oh, pikirku memang begitu. Mungkin ada hal yang lain. Apa ini karena aku yang tidak memberi kejelasan? sebagai lelaki toh. Aku makin bingung dengan diri sendiri dan makin kecewa pada yang tak pasti.
-
Ternyata ini salah kita
Yang hadir belum tepat pada waktunya
Ternyata ini salah kita
Yang tidak mungkin bisa tepat di detik yang semestinya
-
Jika ada ritme yang tepat, melodi yang terindah, dan tempo yang sesuai. Aku akan melaksanakan segalanya untukmu di waktu yang tepat, momen yang terindah, dan perasaan yang sesuai.
08052020 - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang ingin

tak apa, semesta pasti mengizinkan di waktu terindah.
ReplyDelete