Apapun caramu untuk menyakitiku, itu semua salah :
-
Malam ini aku pahami sesuatu. Bukan dirimu lagi yang ingin
kumengerti dengan jelas, bahkan bukan ragamu juga. Aku hanya ingin bertanya
mengenai kejelasan masa lalu kita yang rabun itu. Tak bisa kulihat lagi dengan
mata yang jelas, bahkan aku harus menggunakan kaca pembesar untuk
masalah-masalah yang sebenarnya kecil itu. Ternyata, perasaan yang selama ini
kupahami bukan pemahaman yang benar. Aku miskonsepsi. Tolong.
-
Pernah ada pesan darimu kalau takdir itu kita ukir sendiri dengan
secarik kertas yang dibubuhi oleh tinta. Aku percaya itu semua sudah
direncanakan oleh Tuhan dan kepastian hidupku akan datang. Yang kini aku tidak
mengerti adalah mengapa masih ada rasa tak jelas yang bersisa di kelopak mataku
hingga akhirnya ia berubah menjadi cairan. Air mata yang tak bisa jelaskan,
hingga rumahku yang banjir oleh desakan hati yang kini tak dimengerti.
-
Ooiya aku teringat sesuatu. Waktu itu aku sendiri yang putuskan
untuk pergi dan kau anggap itu sebuah dendam yang serius. Hatimu katanya
tercabik-cabik, hingga akhirnya tidak bisa dengan ikhlas menerima sampai
meringkik-ringkik buruk tentangku. Kau ceritakan semua ini adalah salahku.
Bahkan orang yang kukenal dekat lebih tahu terlebih dahulu sebelum aku mengerti
hal yang sepertinya belum diartikan sebagai suatu masa lalu yang jelas.
Ternyata, misiku dahulu menjadikanmu tujuan hidupku adalah kesirnaan. Hilang
ditelan planet, seakan kau yang selalu benar mengenai alam semesta ini.
-
Caramu menyakiti hati yang terdalam dulu itu punya cerita yang sulit
untuk dijelaskan. Bagai pemadam kebakaran yang menyiram air, kau hanya pemadam
cinta yang membasah kuyupku dengan keringat yang tak dihargai. Di mana letak
akalmu? apakah ia sudah hilang? Aku tahu keegoisanku di luar panduanmu tetapi
pernahkah kamu berpikir betapa tahannya hati ini untuk selalu menerima hal
burukmu. Sebilang kata untuk menetap, seluruh dusta yang hanya kau jadikan
sikap.
-
Aku dalam dunia fatamorgana.
Apa aku hanya harus diam dengan merasa kehilangan?
atau
Apa aku hanya paksa lupa dengan merasa kesakitan?
-
Mataku memandang ke langit. Melihat bintang yang bertaburan ramai
di letak yang antah-berantah. Tapi kupandangi sekali lagi, ada bulan di sana.
Dia hadir sebagai lampion di kala gelap malam. Sepertimu, dia juga punya cahaya
yang menyinari. Tapi yang ada kini sepi naluri hidupku di saat sang rembulan
yang kubanggakan mulai redup. Perlahan musnah dengan caranya sendiri. Tidak ada
tombol hidup dan mati, tapi kau sendiri yang menghidupkan rasa dan malah
akhirnya mematikan rasa nyaman.
-
Tidak ada pengandaian yang lebih hebat dibandingkan aku yang
mengandai-andaikan diri tidak membuat kesalahan waktu itu. Karena kesalahan
yang berat akan berjuang dengan caranya sendiri untuk hilang, terlalu nyaman
dengan dendam dan akhirnya tetap saja ingin di situ. Hilangpun diriku bila
sendiri, dirimu di hati tak bisa akan pergi.
-
Abdiku padamu bukan sepantasnya, dan kini aku sadari itu. Bahwa
perasaan itu semua hanyalah sebuah caramu untuk tetap mencintaimu walau kau
sendiri tak ingin balik cinta. Kau sengaja membuatnya menetap agar kau bisa
menganggap aku yang tidak bisa berhenti mencintaimu. Semua pertentangan ini
hanyalah tentang kita yang tak tahu caranya memohon maaf.
-
Jika ada perasaan yang bisa kuhapuskan sejak dulu,
sudah pasti aku tidak akan pernah mau berjumpa denganmu.
Jika ada pengabdian yang bisa kumusnahkan,
aku harap semua itu dibakar! dibakar!
-
Malam yang sepi bila tak ada dirimu lebih baik daripada saling menyimpan
dendam tentang diri kita berdua. Karena akhirnya aku yang mengalah. Biarkan aku
dengan angin sepoi-sepoi sepi, dan kau dengan rasa yang bersikeras aku yang
salah.
-
Ingin kuhentikan hari ini dengan caraku sendiri. Karena caramu tak pernah akan berhasil dan aku yakin itu. Baik, hilang saja engkau. Biar aku yang mengabdi pada cinta diri sendiri, bukan dirimu yang cuma berharap lebih. Selamat malam, semoga dirimu sadar kalau kita berdua yang salah.
13042020 - mrafieakbar
Kepada seorang sahabat yang selalu disalahkan

Comments
Post a Comment