Nalarku dan Konsentrasiku


Karena yang mengerti pikiranmu adalah kamu sendiri. Bukan aku yang seutuhnya hanya bagian dari kenanganmu, selamat kamu jadi yang pertama bagiku... entah...

-
Hari ini semuanya berbeda. Karena kubungkam pikiranku untuk segala caranya untuk mengingatmu lagi. Karena kadang ia berlebihan, malah banyak memikirkanmu bukannya Tuhan yang sepantasnya kusanjung. Karena akhirnya kusadar bahwa otak ini lebih kuat dalam imajinasinya bukan memakai logika yang pasti. Menghayal-hayal tentang keberadaanmu yang tak ada di samping, mengingat-ingat kenang tentang kita yang tak lagi berdamping.

-
Kapan ada rasa dendam dalam nalar. Dia hanya berlari-lari memikirkan tentang ketidakpastian tentang kita. Karena dia punya alasan tentang apa yang seharusnya dipikirkan itu bukan kamu, justru harusnya yang baru-baru saja. Makanya ia berbolak-balik ke arah yang tak diinginkan. Bisa kubilang itu labil. Tapi mungkin itu kebawa pada usia remajaku yang masih suka berubah pikiran. Kinipun aku ingin, kau bisa berubah pikiran tentang keputusanmu.

-
Siapa saja yang pernah memijakkan diri di gravitasi hatimu, pasti dia sudah pernah setidaknya berhasil singgah untuk waktu yang cukup lama. Seperti Neil Armstrong yang meletakkan bendera di Bulan, akupun dulu meletakkan simbol penting di salah satu relung hatimu. Entah itu kusengaja atau tidak, pasti membekas dan kadang membuatmu terpikir tentangku. Setidaknya hati yang sakit kepala bisa tertenangkan oleh otak yang sakit hati. Dia segera memakai logika untuk tidak ingat aku lagi.

-
Konsentrasiku kini terganggu. Banyak turbulensi yang menggoyahku di antara awan-awan kenangmu. Kau pura-pura cerah, namun ternyata menyiksa. Menggoyang-goyangkan nalar hingga segala isi kepalaku berantakan. Aku tidak bisa memilih untuk mengawali pikir pada yang mana dan mungkin juga, siapa. Karena nyatanya aku tidak mengerti untuk apa kau datang lagi sebagai sosok yang lain, sosok kenang. Berpura-pura singgah mencari barang, ternyata dengan niat untuk melakukan hal yang bisa dikatakan sebagai balas dendam.

-
Kamu ini ingin jadi layang-layang atau sebuah kapal?
Bayang-bayang akhir atau sakit yang dikawal?
Sayang-sayang atau sesal-sesal?
Katakan padaku.

-
Karena selepas ini aku ingin membebaskan pikiran. Untuk lebih jernih sebagai air terjun dan bagaikan partikelnya yang segar-segar. Bukan bongkahan batu yang menyakiti kaki. Walaupun orang memakainya sebagai refleksi, tapi aku lebih memilih air seabgai pertanda kejernihanku dalam mengingatmu. Sangat lancar, sampai lupa kalau ada batu-batu yang menghalangi jalanku untuk selalu mengingatmu.

-
Akan ada penyelesaian dari pemikiranku yang selalu mengarah pada keabadian untuk selalu mengharapkanmu. Akan ada akhir dari konsentrasiku yang terganggu karenamu. Akan ada kata pisah dari semua nalarku dan konsentrasiku itu. Karena aku tahu akhirnya semua itu terjawab.

-
Bahwa bila kau saja tidak pernah punya penalaran untuk memikirkanku, untuk apa aku habiskan waktu untuk konsentrasi pada rasa yang pernah kita cipta yang kini sudah semu. Kenyataan paling pahit adalah ketika aku menyeduhnya dengan menambah manisan, ternyata kenangan kita hanya terasa hambar ketika dipikir-pikir lagi.

-
Kata selesai akan mewakili, kata sudah akan menjelaskan pasti.
Bahwa kita berada di tidak kepastian.
Antara nalar dan konsentrasi.
Antara harapan besar dan yang kamu kasih.

Kepada pelipur lara
09042020 - mrafieakbar

Comments