Jangan ada rahasia yang diam-diam ada di relung hatimu. Cukup tahu, silahkan saja :
-
Hai, aku malam ini merasa lapar. Tak ada kabar seperti yang dulu
kau ucap. Aku tahu itu semua hanya sandiwara suatu hubungan, bahkan kusadar itu
cuma percakapanmu yang mungkin hanya menghargaiku. Takut aku sakit hati yang
padahal akhirnya secara nyata membuatku sakit hati. Takut aku tak enak hati
yang akhirnya justru terwujud. Juga, takut aku pergi. Padahal akhirnya kau
sendiri yang buatku menyingkir. Namun sekarang, aku kelaparan atas perhatianmu.
-
Jujur sejujur-jujurnya, aku masih menyayangimu. Dari cara tertawamu
sambil menutup mulut hingga kebaikanmu untuk selalu bersikap ‘seakan’
menghargai. Walau kadang kau berada di posisi sejatuh-jatuhnya, aku tetap
berada di samping untuk menjadi sebanding. Dari keputusanmu waktu itu,
berulang-ulang kali mengatakan hal yang sama dan membuatku kecewa aku pun tetap
sabar. Berlalu sudah itu semua, tapi perasaanku belum bisa hilang dengan
sempurna.
-
Mungkin kau hanya ingin menjadi tempat persinggahan. Kau ingin
berkenalan dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang cerita. Kau
menyalaminya satu persatu, membuat rumahmu menjadi berwarna. Aku pernah menjadi
yang beruntung dan kau persilahkan aku untuk bertamu. Kita tertawa berdua
hahaha, kita berbincang sampai lelah. Sampai-sampai, kutahu bahwa salam pertama
mungkin antara senior-junior. Akhirnya tangan kita bergandengan sebagai yang
saling mencintai.
-
Di beberapa cerita, mungkin ada banyak hal yang tidak bisa
kusampaikan dengan jelas. Terlebih lagi, kadang kau tak mau dengar apa yang
kumau. Terlalu mudah bagimu untuk menolak di beberapa bagian, apalagi
menambahnya dengan rasa sakit. Tapi yang kutahu aku sudah berbuat sesabar
mungkin. Seberapa serius pun aku padamu, tetap saja kusadar cerita ini candaan
belaka.
-
Kemudian ada orang lain. Yang membuatmu terkesima dan bisa jadi
berubah pikiran lebih jauh. Berubah pikiran untuk berhenti padaku. Aku mulai
menalar, seandainya dia bukan orang yang kutahu sudah pasti aku bisa mencari
tahu. Tapi dalam kasus ini, kau menyukai seseorang yang sadar tak sadar selalu
bersamaku. Bahkan di wilayahku juga. Aku mulai merasa direbut, dipermainkan,
dan diperadukan dengannya. Ini salah siapa sih, aku atau si bodoh itu?
-
Bingung datang terus
Rentan terhadap kecewa selalu
Aku kali ini serius,
Tetap pada jalannya aku mencintaimu.
-
Kau memaksa untuk berhenti. Ketika aku bilang benar-benar berhenti,
kau pun malah tetap menangis. Maksudmu apa? air mata itu untuk menyiram apa?
Masa lalu kah? Atau cuma bagian darimu yang sebenarnya masih sayang namun
bingung menanam hati di raga yang mana. Antara aku dan dia, antara parasnya dan
tak peduli perhatian yang pernah kukasih.
-
Bukan bintang malam ini yang muncul. Justru yang hadir itu kenangan
kita dengan kamu sebagai mataharinya. Sebagai pusat tata surya. Aku tidak mau
menyindir, tapi dengan penuh kesadaran fakta bukan hanya satu planet yang kau terangi.
Kali ini ada dua, mungkin nanti malah ada tiga, empat, dan seterusnya. Hahaha.
Padahal yang kumau kau jadi bulan, hanya setia pada satu bumi.
-
Jika terbagi-bagi seperti itu. Aku tanya, aku bagian mana? Bila kau
bingung dan susah mencari jawaban, bilang saja “kamu.” Tapi setelahnya aku
sadar “kamu
aku” malah “kamu = dia”.
Baiklah aku ikhlas untuk kali ini, bukan penuh paksaan untuk benar-benar benci
padanya. Karena bila ada waktu kita pun masih bisa berjumpa.
-
Setidaknya saling sapa masih menjadi ketenanganku. Yang membuatku
gusar nantinya adalah kau membalas perasaannya dengan cara yang sama dengan
caramu padaku. Aku mulai kenyang malam ini, semoga kamu sayang
aku kembali esok hari.
16032020 - mrafieakbar
Kepada seorang sahabat yang terhormat

keren, saya suka
ReplyDeleteSelamat menikmati!
ReplyDelete