Kita pernah berkenalan. Aku menganggap kali ini kita beristirahat untuk bercakap. Sekarang waktunya sendiri untuk sementara :
-
Mereka merebutmu dariku walau kutahu kamu sendiri yang mau. Aku
berpikir di saat-saat seperti malam ini, aku menyadari bahwa mencintai
seseorang yang mustahil didapatkan kembali justru bukanlah yang terlalu
menyakitkan. Karena yang terpenting, tidak pernah berjumpa saja pun sudah
membuat kureda. Jelas sekali yang aku mau malam ini adalah terbaring rebah di
atas kasur dengan pikiran yang mengobrak-abrik kenangan kita dahulu.
-
Di samping tempat tidurku tidak ada dering bel istirahat seperti
yang ada di sekolah. Yang membuatku berinisiatif untuk istirahat adalah diriku
sendiri, dengan otak yang tetap berkecamuk memikirkanmu. Apa sih ini, ngapain
lagi kamu muncul lagi. Sudahlah, pergi saja dan jangan kembali karena aku tak
mau kau lagi. Apa sih ini, ngapain engkau datang lagi. Biarlah, kenangan kita
harus dibuang pada tempat yang semestinya bukan menetap tidak jelas di otakku
yang kelelahan hari ini. Beban hidup terlalu berat, tidak mau ditambah lagi
dengan rasa sakit yang kau kirim lagi bertubi-tubi.
-
Jika ada waktu yang bisa kembali,
aku berharap tidak ada yang bisa kembali.
Jika ada mesin waktu tercipta,
aku berharap tidak ada yang bisa menciptakannya.
-
Aku sedang malas berpikir terlalu dalam, apalagi berparadoks
memikirkan apakah aku bisa kembali ke kenangan yang lama. Karena jika
seandainya aku bisa, walaupun aku merasa malu-malu, aku sungguh masih ingin.
Jika memang bisa dipanggil kau pelipur lara, aku akan merasa terharu jika kau
membalasnya.
-
Masa kita sudah terhenti ketika detak jantungku malah berdegup
lebih kencang saat itu karena aku tahu akan kehilanganmu. Tapi aku di lain hari
malah menyadari, hidup ini ternyata seperti itu. Ternyata aku sedang melupakan
Tuhan yang menciptakan segalanya. Aku hanya bermain dengan aksara, bukan
benar-benar serius bersyukur terhadap apa saja yang telah dikirimkan-Nya.
Mungkin ketika esok hari akan datang, aku berjanji untuk selalu menerima apa
yang ada karena rupanya itu yang telah dipilihkan untukku.
-
Mungkin hati suka kecewa dengan keputusan yang di luar kendali
kita, bahkan kita menggerutu karena tidak pernah sedikitpun harapan kita
terwujudkan secara instan. Manusia memang begitu, ketika dikecewakan sekali
malah menganggap Tuhan tidak sayang padanya. Jangankan karena perempuan, karena
ketidaknyamanan hidup pun selalu dibuat kasar. Karena yang terpenting adalah
mensyukuri, tapi kamu lupa kalau yang penting bahkan jadi tidak penting.
-
Malam ini adalah waktu yang tepat untuk beristirahat, setidaknya
untuk meregangkan lelah-lelahku. Mungkin besok bisa kembali sediakala walaupun
dia tidak balik, bisa jadi tenang walau dia tak lagi sayang. Bukan urusanku, membiarkanmu mencintai makhluk mana yang dihendaki, juga bukan milikku segala pilihanmu.
-
"Karena beristirahat dari rasa yang tak jelas
justru tepat buatmu, teman. Untuk menyadari betapa ributnya dunia ini dengan ribetnya
isi kepalamu, untuk menyadari betapa susahnya kau melupakan dirinya. Bersyukur
kau pernah merasakan, masih banyak manusia di luar sana yang tak bisa
beristirahat dengan hebat. Walaupun kau sendiri."
06032020 - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang ingin

Comments
Post a Comment