Jika samudera itu bisa kita arungi berdua, untuk apa saling menyimpan dendam jika bisa berpetualangan :
-
Pernah ada candaan yang akhirnya kutertawakan hari ini. Tawaan yang tidak kumengerti ini nyata atau hanya dalam pikirku saja dia bergembira. Atau hanya imajinasi, yang kurancang sendiri dengan antusiasnya mengingat masa-masa lalu yang sebenarnya terjadi tak sengaja, namun kusengajakan pura-pura lupa. Bagaimana lagi caranya untuk berhenti berpikir tentang itupun aku tidak tahu.
-
Aku mencoba rupakan diri sebagai perenang. Bukan sebagai penyelam yang handal karena aku takut tenggelam. Berenang dengan gaya bebas, aku sendiri yang menentukan mau ke samudera mana ingin kudatangi. Mungkin ke arah pasifik yang mengerikan, mungkin saja ke segitiga bermuda yang misterius. Akhirnya kutahu, kau tak ada bedanya.
-
Nalarku mencoba untuk tetap menganggap kisah yang pernah ada itu sudah lewat. Namun aku terlanjur bahagia dengan membayangkannya sekali saja. Tak berani melupa, segan untuk ingat dengan tepat. Karena aku tahu itu semua pernah ada, bukan berlangsung lagi hingga kini.
-
Terkadang aku ingat wajah. Seorang yang tidak senyum sekalipun, sudah tampak ramah. Namun sekarang rautmu beda; malah buang muka. Lagi-lagi, tak untuk senyum sekalipun. Akhirnya kutahu bukan wajah lagi yang mengekspresikan diri, malah perasaan tanpa pasti.
-
Dendam apalagi. Yang terpancar bukan dari segala cacian, justru dari sikap diam di tempat. Mengepalkan tangan seraya berimajinasi memukulnya habis-habisan. Bukan kau secara fisik yang kupukul, sudah jelas itu melanggar peraturan. Tapi yang kupukul adalah kenangan kita, yang habis-habisan menyakitiku tanpa memikirkan hak asasi manusia.
-
Hai, maafkan lagi aku
Jika ada kesalahan yang membekas
Lain kali jangan pura-pura tak tahu
Ada baiknya kita berdua berbaikan dengan lekas
-
Jika yang membuatmu sakit adalah Tuhan, itu semua cobaan bagimu agar tetap sabar. Jika yang membuatmu sakit itu manusia kurang ajar, itu semua tergantung kamu. Tetap sakit dengan hati itu atau langsung pergi saja.
-
Ada lagu yang mengagungkan penyesalan, aku tidak walaupun sebenarnya sesal tetap ada. Bukan itu yang menjadi prioritas karena aku tak tahu dengan jelas ini ilusi atau memang kenyataannya aku bingung dengan semua yang menghancurkanku dengan perlahan.
-
Mau seribu, puluh ribuan, hingga jutaan sajak yang kutulis itu semua hanya kata-kata. Mayoritas diisi dengan diksi cinta. Tapi yang perlu kau ketahui, aku tenggelam ke dasar lautan bukan hanya mencari dirimu. Kata-kata itu sekadar pikiran otakku, dan kau berada di sana.
-
Jika tak ada lagi mutiara,
Aku mungkin bisa mencari ikan
Tapi tanpamu dalamnya,
Sungguh aku seumur hidup penuh penyesalan.
09122019 - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang ingin.

Comments
Post a Comment