Kau Sendiri yang Menciptakan Hari-Hari Sepi


Percayalah, aku merasa sendiri :


-
Tidak ada yang salah di antara kita. Aku tidak ingin menyalahkanmu atas semua apa yang telah terjadi. Berulang-ulang kali kukatakan itu padamu. Mau terhempas jauh pun aku dari tubuhmu, aku tahu kau yang akan kembali. Karena tujuan dibuat jarak adalah saling merindu, hasil pada akhirnya adalah cinta yang menetap. Bukan di sini aku ingin berharap terlalu jauh terhadapmu. Sungguh, benar-benar bukan begitu. Namun ketika hatiku tak mampu lagi menahan perasaan yang tertahan, berangsur-angsur perasaan akan hilang. Kau harus percaya mengenai ini. Karena bagaimana pun caraku untuk menetap denganmu juga tidak kau acuh. Aku mericuhkan hatiku sendiri, baiklah.

-
Sekuat hati tetap ingin bersamamu. Tapi daya pikir ingin menolaknya, logika mulai bersikeras untuk tidak lagi memikirkan alternatif apapun dari hubungan ini. Bukan seperti rumah yang bisa jadikan ku tempat menetap, justru malah jadi trotoar yang kadang tak bisa kujadikan tempat berteduh. Ada baiknya masih terdapat halte bus, aku masih bisa menunggu hujan reda di sana ketika aku tak mengendarai mobil. Berharap dari rintik-rintik itu muncul kenangan yang tak pasti akan terulang. Justru dari itulah aku mengerti, aku disuruh Tuhan untuk berteduh sebentar di halte; untuk bisa mengatur daya pikir menetap setia denganmu.

-
Diam-diam konsentrasiku kembali beralih padamu. Mengingat pelukan hangat yang pernah kau buat, dan juga seduhan teh yang pernah kau racik.
“Ayo jalan!” suruhmu padaku.
Sekarang, dua kata itu tak pernah muncul lagi dari telepon genggam sekalipun.

-
Teh yang kau buat agar aku tak dingin berhasil meneduhkan hati yang tak karuan. Bukan karena kau yang buat, justru mungkin kau beli teh sariwangi kesukaanku. Hahaha, aku berbohong terus bila kau yang buatku nyaman. Justru bukan itu semua. Aku merasakan kehangatan bila kau ada, namun merasakan kenyamanan apabila kau juga bersikap tenang. Tidak melototkan matamu, tidak tersenyum paksa, serta tidak membuat badanmu seakan menolakku datang padamu.

-
Sekali lagi dari berkian-kian kali aku ingin katakan. Belum saatnya lagi aku mencintaimu. Biar saja kita berpisah, tapi menyimpan perasaan yang lebih tenang. Daripada berbuat seakan sayang, tapi pada akhirnya aku tahu semua itu pemaksaan yang kau buat sendiri. Terlebih jauh, berjanjilah untuk tidak bermain-main. Dan untuk kedekatan yang lebih kuat dan integritasmu aku yakini, cintailah aku sepenuh hati.

-
Aku hari ini sepi,
bukan karenamu.
Mungkin karena aku tidak berbuat apa-apa.
Mungkin juga karenamu tidak datang lagi dengan sayang.

-
Aku tidak menyalahkanmu atas upaya kau untuk meninggalkanku, bukan itu. Tapi aku yakin kau terima balasan atas sepi ini secara pasti. Bila karenamu aku patah,

-
Kau sendiri yang menciptakan hari-hari sepi
Kau sendiri yang menciptakan dendam di hati-hati manusia romantis.

-
Semoga kau sadar itu, agar aku tidak lagi mencoba untuk membunuh perasaan ini.

01082019 - mrafieakbar

Comments