Tentang jiwa yang akan saling menyatu, keabadian yang kita cipta bersama :
-
Kau bisa ingat tentang senyuman kita yang saling melempar? Dari
berbagai hal yang tak kita ketahui, dan bahkan belum saling kenal. Karena
kutahu bahwa senyum adalah ibadah, adalah sebuah peribadatan pada Tuhan. Aku
bersyukur telah memberinya pada salah satu ciptaan tercantik-Nya.
-
Ada suatu saat yang akan datang dan mungkin saja sekarang sudah
memulai kisahnya. Kita berdua akan merasa tidak berguna. Tak ada manfaatnya
untuk saling melontarkan cinta yang terpendam dengan lisan dan tak ada gunanya
untuk menggombal mesra untuk memastikan kita adalah sebuah pasangan. Bukan itu
saja, mungkin ada saatnya nanti kita akan saling menyakiti, saling menghujat
seperti media sosial. Namun kita nyatanya sadar, masih saling suka menyukai.
-
Bila ada air mata yang bisa kutampung dengan cepat, aku pun akan
malas mengambil ember. Karena aku tahu dari kelopak matamu yang suka berbohong,
kau bisa memalsukan air mata itu yang diam-diam akan segera turun ke arah yang
kau ingin. Ke bawah, ke pualam pipimu, dan mempupuskan segala kesalahanku yang
sebenarnya diakibatkan kau juga. Untuk apa juga aku kumpulkan jika pada
akhirnya yang kau suruh usap bukan aku, melainkan dia.
-
Jika ada sebuah pertanyaan yang bisa kuungkap padamu, tentunya
adalah tentang bagaimana kabarmu hari ini? Aku sadar aku bukan orang yang
berguna. Terlebih lagi kita juga bukan orang yang saling memberi manfaat yang
pasti. Hanya sebuah pelampiasan perasaan yang kuat untuk segelap rindu pada
seseorang yang lain, dan hanya menjadi perantara dengan perasaan yang tak bisa
dikeluarkan dengannya.
-
Ada yang lebih mengerikan. Setelah membuat kita jarak yang
terhempas lebih jauh, dan bahkan hingga saat ini masing-masing kita ubah dengan
jelas. Siapa yang sebenarnya memulai ini semua pun aku tak tahu dengan jelas.
Aku yang memutuskan hubungan bukan berarti aku mencari jarak, justru ingin
membuatmu merasa aman. Aku tetap sayangmu, aku tetap jadi cintamu, dan bahkan
aku ingin selalu jadi konsentrasimu. Kedua matamu terpandang dengan jelas bahwa
arah yang lebih kuat akan menghasilkan tatap yang konsisten.
-
Bukan perkara aku bisa lebih melihat yang jelas. Bukan tentang
siapa yang bisa mengertimu lebih jauh, justru ini tentang siapa yang akan kau
pilih menjadi yang berguna. Bukan yang hanya datang, bilang aku cinta,
lampiaskan nafsu, kemudian pergi. Tidak, tidak seperti itu. Harus yang lebih
baik, aku tidak menjadikanmu seseorang yang jadikan pendekar segala kesedihan.
Melainkan aku ingin jadikanmu pelopor segala kebahagiaanku di setiap sudut
hari.
-
Jelas sudah kah?
Kita belum saling memberi jawab pasti.
Kadang kita butuh perasaan yang cuma-cuma untuk diberikan pada
orang
Tapi kau tahu, aku tidak suka cumi-cumi.
-
Mengerti? aku tanpamu tetap manusia. Dia tanpamu pun kau tetap
manusia. Ini bukan tentang dia, justru aku ingin bertanya siapakah yang akan
memberi jawaban berguna untuk ini semua. Ketidaksukaan kau padaku bukan berarti
aku juga tidak suka, bahkan lebih jauh dari itu. Melibatkan yang lebih jauh.
-
Saling bicara dengan perasaan. Kau tahan-tahan tidak bercakap.
Akhirnya gelisah yang datang padamu untuk memilih siapa yang pasti. Tenang, aku
tetap akan menjadi pewujud mimpi-mimpi pagi dan malam kita. Bukan tentang dia,
karena hanya ada pendekar sendu dan pasangannya. Kita.
25062019 - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang ingin.

Comments
Post a Comment