Lusa Denganku, Dia Selamanya



Jika berat untuk menjadi yang satu-satunya yang disayangi, aku rela :



-
Ketika kita tinggal di lokasi yang tak terlalu jauh, mungkin aku tidak akan takut kehilanganmu. Terkadang suatu tempat bisa kita jadikan tempat untuk menetap dan bahkan ditinggalkan. Mengapa? karena aku takut ketika suatu tempat menjadi saksi bisu, aku yang tukang nangis akan selalu terseduh-seduh mengenang terlalu banyak cerita. Mungkin dari sekian banyak rumah yang kau tinggali dan berbagai lokasi yang menjadi kenangan, mungkin dia lah yang buatmu nyaman untuk bersandar.

-
Perpisahan akan hadir ketika kita sendiri yang memutuskan untuk saling menjauh. Dengan berbagai pertimbangan dan banyak sekali keputusan yang harus diambil, kita akan saling berseteru dengan jarak. Kita makin menjauh, menjauh, dan menjauh. Pelan dengan kaki yang terus saja melangkah, pasti akan sampai pada tujuanmu. Karena yang jadi masalah sekarang bukan kita yang mampu merelakan perasaan, justru kita yang selalu menahan-nahan itu semua. Terkadang ada perasaan yang tidak rela untuk meninggalkanmu dengan berbagai aksara yang pernah ku beri, rayuan; dan juga gombal yang ku kasih dengan humoris. Kau tertawa, dan aku juga. Itu semua hanya kenangan dan tergantungmu untuk tetap mengingat atau dengan kuat untuk melupakan.

-
Untuk menetap pada satu tujuan, aku harus berkonsentrasi denganmu saja. Itu yang terberat, aku adalah manusia yang terlalu berharap. Dengan monoton aku memandang gambar-gambar kita berdua, dengan penuh makna ingin mengulang cerita-cerita yang pernah ku rekah dengan hebatnya. Sampai jadi tulisan yang ku ketik ini pun, yang terngiang-ngiang di pikiran adalah kenangan kita. Benar-benar pengaruhmu sangat kuat dan mendominasi setiap sudut dari kakunya otakku yang terkadang membeku atas sikap dinginmu.

-
Besok, aku tahu kau sibuk.
Karena ceritanya kau ingin meminta izin dulu padanya dan mungkin bersalaman mesra terlebih dahulu.
Hahaha,
Maaf bila di hatiku tertulis indah namamu. Sungguh aku meminta maaf mengenai hal ini, karena benar-benar aku menghantui pikiranmu sekarang. Aku tahu kau juga mencintaiku sebagaimana mestinya.

-
Pada akhirnya tidak tahu kita siapa yang akan menyalahkan perasaan. Aku yang terlalu berharap, atau kau yang masih biarkan cintamu menetap. Rindu yang kau uraikan dengan berbagai kekuatan itu tak ingin ku lawan. Karena aku juga berharap pada rindumu, karena aku masih juga mencintaimu. Masih, masih, dan masih.

-
Lusa, ayo kita bertemu teman.
Karena setiap langkah yang akan kita lewati nanti, takkan lagi empat jejak sepatu.
Masing-masing berbeda.
Mungkin kau tetap sama jejak kaki, tapi yang dua lainnya itu bukan aku.

-
Perasaan yang menyakitkan dan semua ini harus terjadi.
Harus kau putuskan dengan sebenar-benarnya dan penuh keyakinan yang pasti.
Aku mencintaimu walau kau takkan dan bahkan tidak lagi membalas.

-
Aku sadar cinta tak perlu dibalas dendam nafsu,
lebih baik dirawat mandiri.
Aku sadar perasaan ini tak perlu dibalas olehmu,
lebih baik tinggalkan ku sendiri.

-
Takkan ada jalan baru yang terbuka untuk kita dan kita akan sepakati itu.
Jelaskan! Sebutkan!
Apa saja yang kau mau.

-
Sudah baik kita pada setiap hati yang tak ingin terbodohi.
Ayo berjumpa hari lusa kelak, sayang.
Agar kau mudah untuk melepasku,
agar kau bisa dengan dia selamanya.

tanpatanggal - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang ingin

-
Foto :Trash Cass

Comments