Waktu Namamu Hanya Ilusi


Ketika kita saling memulai cerita dan kita tidak melanjutkannya ke jenjang berikutnya, bukan berarti itu semua berakhir. Boleh kau bilang kurang ajar, dan bahkan menganggapmu sahabat dekat saja. Sesuatu yang bodoh, tapi spesial :


-
Aku sudah terkagum dengan senyum sejak melihatnya di berbagai feeds Instagram-mu. Tak usah aku beritahu senyum siapa, dan bagaimana cara menjelaskannya. Dengan mata yang indah itu kau menghadap kamera, dan menatapnya tajam.

-
Tunggu, aku belum kenal denganmu.
Bahkan, belum pernah saling sapa.
Ketika aku membayangkan lebih besar dari mimpi,
aku ingin menjadi kamera yang kau tatap lebih tajam daripada lensa itu.
Lensa mataku harus dapat lebih.

-
Tak pernah ada dalam schedule untuk mencari tahu jauh tentang kau. Karena ilusi hanya tercipta akibat dari bayang-bayang remang. Tak jelas, apalagi aku tidak agresif sekarang ini. Lelah terlalu banyak berpikir tentang kata-kata yang harus ku rangkai. Dan juga banyak perempuan yang jatuh cinta padaku di luar sana.

-
Apalagi sekarang aku sedang bersamanya, yang memberiku kenyamanan tanpa batas. Memberi senyuman yang tak kalah manis darimu. Lorong-lorong waktu yang ku telusuri lebih banyak bersamanya. Gembiraku juga dibuat olehnya. Terkadang tak salah kan, untuk jatuh hati pada manusia lain?

-
Diam-diam aku memikirkan namamu setiap malam.
Untuk memberitahu Tuhan bila suatu saat aku ingin berkenalan denganmu.
Untuk memberitahu bahwa aku terkagum denganmu.
Bosan sudah aku menyimpan rasa, karena bukan rasa stroberi.

-
Karena aku suka coklat, dan kau juga.
Kita berdua tak dekat, dan kau pun juga tak kenal denganku.
Lebih kerennya mari kita saling mendengarkan.
Dari sini aku sampaikan banyak cerita.

-
Aku mengagumimu.

lupatanggal - mrafieakbar
Kepada perempuan berkulit putih

Comments