-
Kapan terakhir kali kita saling menatap mata. Atau sebenarnya tidak
pernah? Karena mungkin itu hanya dalam mimpiku saja.
Kapan terakhir kali kita bergandengan tangan. Atau sebenarnya tidak
pernah?
Karena mungkin aku hanya menyalami tanganku sendiri.
-
Aku naik wahana permainan sebahagia apapun, aku bisa pura-pura
sedih. Karena manusia bisa mengatur senyumnya jadi lengkungan tak ikhlas. Di
sisi lain, ketika aku berteriak karena geli, menggerutu karena terlalu seru,
dan berpura-pura senang dalam riang yang gamang; itu semua bisa ku jadikan
dusta. Lebih dari apapun, aku bisa melepas segala angan-angan karena aku tak
bisa bahagia tanpamu.
-
Orang-orang yang pura-pura berkata dia romantis padahal tidak,
sebenarnya harus ditebas. Mereka mengatakan :
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Jangan pergi, aku tak bisa jauh darimu.”
dan
“Aku akan ada selalu untukmu.”
tapi kau sadari sendiri, mereka semua pembohong. Pencipta narasi
kebobrokan untuk melenturkan hatimu agar tetap elastis dengan mereka.
Meregangkan perasaan-perasaan yang ketat dan juga melekatkan persahabatan yang
tanpa status itu.
-
Sebuah pesan yang lebih nyata aku juga pernah melakukan hal yang
sama. Lebih jauh lagi bahkan sampai melebihi kapasitasku. Mau itu sebagai yang
pernah mencintaimu, sebagai manusia yang suka menangis, dan juga sebagai orang
yang terlalu takut kamu lepaskan. Aku minta maaf, semisalnya hari ini kita
harus berhenti.
-
Mari kita berimajinasi sekali lagi.
Andaikan kita masih bersama, aku bahkan tak pernah menyentuhmu
sekalipun dahulu. Karena kau bilang kau malu, dan aku pun tak mau. Gegara itu
semua, aku juga tidak pernah menyentuh perempuan manapun lagi di bumi ini.
Ingat, kecuali ibu. Ayo, kita bermimpi di malam. Kita saling berpelukan di
bawah teriknya matahari dan kita kepanasan. Lalu kita mencari pohon untuk
berteduh.
-
Kamu percaya?
Kurang kerjaan kita berpelukan di bawah panasnya matahari. Peluk
itu hangat, untuk apa kita makin panas di terik.
Kamu percaya?
Kurang kerjaan kita mencari pohon untuk berteduh. Ketika dedaunan
hanya gugur ketika musimnya, hujan justru makin membantunya untuk gugur lebih
banyak. Dari itu semua, ada kalanya kita hanya berteduh ketika hujan.
Payung-payung daun itu mengurangi guyuran dan justru ketika aku meninggalkanmu
sendirian, aku tahu kau bisa marah sepanjang langkah, lantas berpisah.
-
Coba kau katakan dengan diksi yang benar-benar roman. Agar aku bisa
menilai kau memang benar-benar hanya tukang mengada-ada. Pelipur lara, kamu benar-benar
spesial. Akan ku petik bunga paling indah, dan kau yang siram setiap hari.
-
Hemat pangkal kaya. Lalat dangkal suaranya.
Mari berfantasi.
Siram bunga yang kau tanam dengan guyuran air
matamu.02122026 - mrafieakbar
Kepada pelipur lara

Comments
Post a Comment