Mungkin sedikit lagu tua ini dapat melatarbelakangi tulisanku di bawah ini :
-
Besok hari, kapan pun sampai senja terakhir. Aku di sini menunggu dengan sekeping koin coklat. Berputar-putar dalam puting beliung yang mengaung. Hujan hari ini mengundangku untuk berpesta dengan sang raksasa di atas langit. Mengajakku untuk senantiasa berada di atas awan, supaya tak terguyur tangis.
-
Mainan kita adalah hati, masalah sebenarnya dan senyatanya hanya tentang kita saling menghilang. Bukan perkara jarak yang kuat dan juga bukan perkara seberapa hebat kita menyatukan tali yang telah terputuskan. Namun kali ini lebih jujur, bahwa senyatanya rindu yang paling dalam pun tak akan pernah bisa menyamakan sendari perasaan lama.
-
Pesawat terbang berada di wilayah kekuasaan langit. Dulu waktu kecil kita membayangkan bahwa gulali terbuat dari bahan yang sama dengan awan. Lembut, halus, dan empuk. Faktanya ternyata lebih mengerikan daripada yang kita bayangkan. Apalagi bila kita panggilkan awan kumulonimbus. Tergetar hatimu, dengan geluduk yang kamu takuti itu.
-
Jarang sekali kita berada dalam perasaan yang pernah ada. Maksudnya, untuk sekali lagi. Berkali-kali nyatanya kita berada dalam situasi yang aku ciptakan sendiri untuk mengusik ketenanganmu. Sebenarnya mudah, aku pergi kali ini kemudian berlangkah pada jiwa yang lain. Semudah itu. Kamu juga tahu itu. Tapi masalahnya hati ini tak mengizinkanku untuk berpindah.
-
Lebih pintar aku atau Albert Einstein sih?
Dia pernah bilang, imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.
Sekarang, aku terlalu banyak mengandai-andai tentang masa depan. Aku mengimajinasikan telah mengenggam tanganmu kuat sekuatnya. Tapi pada akhirnya ternyata pengetahuanku tentang hatimu sudah tak kuhiraukan. Apa masih jatuh cinta padaku, atau ternyata tidak sama sekali. Pada akhirnya, aku yang akan jatuh pada jurang kenangan.
-
Aku selalu menunggumu di sini.
Celakanya, kaulah yang benar-benar ku tunggu.
(Sendiri)
02022019 - mrafieakbar
Kepada siapa saja yang baper

Comments
Post a Comment