Harrisons & Crosfield didirikan oleh Trio Daniel
Harrison, Smith Harrison and Joseph Crosfield pada tahun 1844 di Liverpool dan
bergelut di bidang importir teh dan kopi. Pada akhir abad ke 19 sebelum
melonjaknya harga karet semasa Perang Dunia kedua, H&C mulai tertarik untuk
melakukan investasi usaha perkebunan karet dan mengoperasikan beberapa
perkebunan di Malaysia, Srilangka, Sumatera, Papua dan India Selatan.
Jauh sebelumnya, Medan
hanyalah hutan rawa dan kampung yang sedikit penghuninya. Pusat keramaian di
Sumatera Timur terletak di Deli (sekarang Medan Labuhan). Seorang pengusaha
Belanda, Jacob Nienhuys, adalah orang yang melihat potensi tembakau di Deli
menjadi sebuah komoditi yang menjanjikan. Akhirnya ialah yang membuat tembakau
Deli menjadi terkenal karena kualitasnya dan masuk ke pasar internasional
khususnya di Amsterdan dan Bremen. Kemudian dia menjadikan perusahaan De
Deli Maatschappij. Kemudian karena semakin bertambah penghuni dan juga
menjadi tempat kegiatan ekonomi berlangsung, Medan menjadi ibukota Keresidenan
Sumatra Timur. Sebelumnya ibukota Sumatera Timur terletak di Bengkalis, Riau.
Kemudian karena daerah Deli sangat
rentan dengan banjir, sangat tidak mungkin menjadikan Deli sebagai sebuah kota
untuk kegiatan ekonomi Belanda pada saat itu. Walau Deli adalah tempat istana
Sultan Deli berada dan banyak bangunan sejarah yang masih ada sekarang kita
lihat seperti Mesjid Osmani, Kuil Dewi Kwan Im, namun akhirnya Nienhuys,
mengambil kebijakan untuk membuat sebuah tempat sebagai tempat kegiatan
ekonomi. Dan terpilihlah Medan pada saat itu. Bangunan pertama yang dibangun
adalah gedung De Deli Maatschappi.
Gedung Lonsum didirikan pada tahun 1906
dengan dimulainya pembangunan pada tahun 1900 hingga 1905. Perusahaan Harrisons
& Crosfield membangun gedung ini untuk menjadi kantor mereka dalam usaha
pelayaran dan perkebunan. Model arsitektur pada gedung ini mengambil konsep
pada abad 18-19 model Inggris.
Tidak hanya Harrisons & Crosfield yang
menggunakan gedung ini dahulunya sebagai kantor. Salah satu dari yang lainnya
adalah British Council. Di dalam gedung ini dahulunya juga terdapat
perpustakaan bagi pegawai-pegawai yang bekerja di gedung ini. Sekarang, gedung
ini dialihfungsikan menjadi kantor regional PT. PP. London Sumatra Indonesia
bagian Sumatera Utara. Ada terdapat 12 kebun dan 4 pabrik perusahaan yang ada
di provinsi ini.
Berdasarkan wawancara narasumber dari PT. PP. London
Sumatra Indonesia bagian General Service,
Ibu Dewi Saviah Lubis dan Ibu Fifi Soufina, ada banyak gedung yang menjadi
objek sejarah di Kota Medan. Ada beberapa gedung lain yang berperan dalam
sejarah kota ini. Diantaranya adalah Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia, dan
Balai Kota lama. Sebagai gedung perkantoran perkebunan, Gedung Lonsum adalah
salah satunya.
Gedung ini tidak mengalami banyak perubahan yang
signifikan pada setiap sudut sisi gedung. Perubahan hanya pada beberapa bagian
yang dinilai harus dirawat dan dijaga namun tidak mengubah nilai sejarah yang
ada di dalamnya. Pernah dilakukan renovasi pada tahun 2006 dengan mengubah
konsep terbuka menjadi tertutup pada langit-langit gedung.
Dahulunya, gedung ini mengambil konsep terbuka tanpa
ada air conditioner (AC) dengan
sirkulasi udara dari langit-langit dan jendela yang ada pada gedung. Berbeda
halnya dengan sekarang, gedung ini sudah menggunakan AC di setiap ruangannya.
Di setiap jendelanya pun dipasang jerjak-jerjak.
Hanya ada sekitar 20% perubahan yang dilakukan pada
gedung dan itu pun hanya untuk perawatan serta perbaikan di beberapa bagian.
Pada bagian luar gedung, 100% tidak ada perubahan. Perbaikan yang dilakukan
hanya pada pengecatan dinding yang sudah kabur dan rontok. Keramik lantai yang
ada di gedung ini pada beberapa bagian masih asli dari awal pembangunannya.
Pilar-pilar di depan Gedung Lonsum dibangun
menggunakan kayu, dan tidak ada kerusakan yang parah dan hanya dilakukan
perbaikan seperlunya. Border ceiling di dalam kantor ini masih asli dari awal
pembangunan dahulu. Seluruhnya diperlihara dan dirawat dengan baik.
Jerjak-jerjak yang digunakan pada jendela di gedung ini juga masih asli.
Objek bersejarah yang ada di dalam gedung ini adalah
lift yang mana adalah lift tertua di Kota Medan. Lift ini masih difungsikan
hingga sekarang. Lift ini dibuat tahun 1908 oleh perusahaan lift Inggris pada masa
itu, R. Waygood and Co.. Arsitektur Inggris terlihat dari gerbang yang menutup
pintu lift. Memfungsikan lift ini tidak seperti lift yang ada di hotel maupun
mall, lift ini seperti kandang yang dikelilingi besi yang indah ukirannya.
Kemudian lift yang ditutupi kayu indah. Untuk menaikkan dan menurunkan lift dilakukan
secara manual, yakni dengan menarik tuas yang ada di dalam lift.
Pada
dahulunya, lift ini tidak bisa dinaiki oleh rakyat biasa atau pegawai kantor.
Hanya direktur-direktur asing dan kepala pemerintahan asing yang boleh menaiki
lift ini. Sedangkan yang lain seperti pegawai kantor dipersilahkan untuk
berjalan kaki dari tangga yang berada di sebelah lift.
Namun
sekarang sudah diperbolehkan, setiap pegawai bisa menaiki lift bersejarah ini.
Namun untuk wisatawan, tidak dibolehkan sebelum mendapat izin dari pihak PT.
PP. London Sumatra Indonesia.
Pada
konteks perawatan, karena alat-alat lift tidak ada lagi dijual, untuk itu
setiap setahun sekali didatangkan pakar ahli langsung dari Inggris untuk mengecek
kualitas lift agar tetap layak dipakai sebagai bukti sejarah yang masih ada dan
masih berfungsi.
Lantai
dasar/paling bawah pada gedung ini disebut ground
floor. Di tingkatan lantai ini, dari pintu masuk langsung tertuju pada
lobby kantor. Selain itu juga terdapat clinic
dan apotek untuk pegawai-pegawai. Di bagian belakangnya juga terdapat tempat
parkir sepeda motor, internal loaded, dan toilet. Untuk perkantorannya, di
lantai dasar ini terdapat bagian penjualan dan pembayaran. Dekat lobby, juga
terdapat lift.
Ketika
menaiki lift ataupun tangga, kita akan sampai pada lantai pertama atau first floor. Lurus di depan lift,
langsung tertuju pada ruang direksi. Ketika berjalan ke kiri, akan ditemukan
ruang kerja bagian umum, bagian kesehatan, dan bagian kepegawaian.
Di
lantai kedua atau second floor, ada
kantor kerja bagian operasional kebun, bagian operasional pabrik, serta teknik.
Kemudian pada lantai ketiga atau third
floor, akan ditemukan kantor bagian accounting,
IT, kantin, dan musholla untuk pegawai muslim.
Lantai
keempat atau fourth floor adalah
tingkatan paling atas. Di lantai ini terdapat aula gedung atau disebut hall. Hall digunakan sebagai tempat pertemuan rapat bagi direksi dan
pegawai-pegawai. Juga sebagai tempat seminar. Di sisi lain lantai ini juga
terdapat tempat makan (dining room)
yang berkonsep terbuka langsung pada langit dan dari tempat ini bisa terlihat
gedung-gedung pencakar langit lainnya yang ada di Kota Medan.
Gedung
ini sudah berumur cukup tua, sempat ada wacana untuk memindahkan kantor
regional PT. PP. London Sumatra Indonesia ke tempat yang baru. Namun setelah
ada penelitian dan pertimbangan, kantor regional tidak jadi dipindahkan dengan
alasan selama ini perusahaan sudah mengurus izin untuk jangka waktu yang lama.
Tentu ada biaya yang tinggi untuk bisa pindah ke tempat yang baru. Proses dapat
berlangsung lama karena harus mempertimbangkan konsep gedung yang baru.
Kelebihan
dengan keberadaan gedung ini bagi perusahaan adalah tempatnya yang strategis di
tengah-tengah Kota Medan. Akses kepada perkebunan Lonsum dari Langkat hingga
Kota Pinang pun lebih mudah karena gedung ini berada di tengah-tengahnya.
·
Anggapan Masyarakat
Pemerintah
Kota Medan menjadikan Gedung Lonsum sebagai salah satu Badan Warisan Sejarah
atau Heritage Kota Medan. Karena
gedung ini menjadi saksi terhadap apa yang pernah terjadi terhadap pembangunan
Kota Medan di masa lalu.
Masyarakat Kota Medan maupun wisatawan mungkin
menilai dari luar bahwa gedung ini menyeramkan. Namun pada kenyataannya tidak.
Para pegawai yang ada di gedung ini bekerja dengan nyaman. Hal ini terbukti
dengan sirkulasi udara yang teratur dengan AC. Produktivitas kerja pegawai juga
baik dengan fasilitas yang ada seperti meja kerja. Juga terdapat berbagai alat
dan mesin untuk administrasi.
Masyarakat Kota Medan
beranggapan positif dengan keberadaan gedung ini. Dapat dilihat dari antusiasme
masyarakat yang suka berswafoto di depan bahkan setiap sisi luar gedung. Beberapa
masyarakat bahkan mengatakan istilah “Medan
serasa London” karena keberadaan gedung ini yang berarsitektur Inggris pada
masa lalu.
Saya menulis makalah penelitian untuk Sejarah Pembangunan Gedung PT. PP. London Sumatra Indonesia, bisa diunduh di sini :







Comments
Post a Comment