Memahami Generasi Millennial dalam Menentukan Budaya Literasi dan Upaya dalam Mempertahankan Kebiasaan Membaca Untuk Masa Depan Indonesia
Mewujudkan suatu visi setiap manusia nusantara menjadi cerdas
adalah suatu hal yang menjadi impian sejak dahulu. Berbagai usaha sudah
dilakukan untuk merealisasikannya dan usaha tersebut ada berbagai macam juga
caranya. Pemikiran yang polos dari seorang individu ternyata harus diisi dengan
ilmu pengetahuan. Juga harus mementingkan kepengaruhannya pada kehidupannya
sehari-hari. Selain itu, juga berdasarkan dalam konteks penyesuaian budaya. Indonesia
sebagai bangsa yang heterogen juga tak lepas dari permasalahan. Lantas juga
setiap perbedaan itu memiliki gebrakan tersendiri bahwa sisi positif serta sisi
negatif juga harus memiliki pandangan wawasan yang baik. Oleh karena itu,
dibutuhkan kebiasaan positif dengan membudayakan literasi.
Secara
tradisional, arti literasi adalah kemampuan membaca, menulis, dan
berhitung aritmatika. Dalam hal tersebut jika dipahami lebih lanjut, literasi
adalah salah satu cara atau upaya seorang individu dalam memahami sesuatu
dengan cara membaca, menulis, dan memiliki pola pikir yang kuat kaitannya
dengan logika dan akal sehat. Dari pemahaman tersebut, dapat dibuktikan bahwa
setiap kemampuan yang dimiliki manusia tak terlepas dari pemikiran dan
kesadaran diri mereka sendiri. Dengan kata lain, suatu pola pikir dapat
dipengaruhi oleh kebiasaan membaca. Menulis dapat dinilai sebagai pelampiasan
pikiran, serta menjadi upaya dalam mendoktrin pembaca dengan tulisan yang
dituliskan oleh seorang penulis.
Di era globalisasi
saat ini, teknologi berkembang dengan pesat. Sangat cepat seperti kilat
menyambar, seluruh informasi dari atas langit pun bisa sampai ke bumi dengan
cepat. Dari istilah tersebut, diartikan bahwa segala sesuatu berupa berita,
informasi, serta pesan-pesan dari ujung dunia ke bagian lainnya dapat sampai
hanya dalam hitungan detik. Berbeda situasinya ketika pada zaman dahulu, setiap
berita yang ada hanya dapat menunggu informasinya di koran edisi keesokan
harinya atau melalui televisi. Burung merpati pun dulu telah berjasa
mengantarkan surat-surat yang ingin dikirimkan. Namun apa yang telah kita
perhatikan sekarang, berita dengan cepatnya sampai. Informasi pun dengan cepat
dikelola oleh media dan disiarkan semuanya kepada publik. Hal ini juga tidak
terlepas daripada kebebasan pers dunia sekarang ini.
Dengan segala
perubahan yang ada, minat membaca generasi muda zaman sekarang atau yang lebih
akrab dipanggil millennial mulai memperlihatkan kelemahannya. Karena
keterikatan mereka pada teknologi yang ada di dalam genggaman, semuanya
berubah. Buku di toko buku tidak semuanya laku dengan keras. Namun, di sisi
lain mereka lebih memilih membaca dengan berita-berita yang telah dibuat
menjadi infografis dan sederhana untuk lebih mudah dimengerti. Minat membaca
lebih terperhatikan pada ketertarikan mereka pada membaca novel, yang
didominasi oleh kisah-kisah remaja. Hal ini juga tidak dapat dianggap negatif,
karena dengan cara tersebut mereka pun menjadi lebih rajin dalam ‘melatih otak’
mereka dengan aksara-aksara yang ada. Yang menampakkan kelemahannya adalah
kurangnya kemampuan mereka dalam mengelola informasi mana yang benar dan mana
informasi yang salah dengan keragaman berita yang memasuki notifikasi smartphone
mereka melalui internet ataupun buku elektronik (e-book).
Menurut UNESCO,
Literasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami,
menafsirkan, menciptakan, berkomunikasi dan menghitung, menggunakan materi
cetak dan tulisan yang terkait dengan berbagai bidang. Salah satu bidang yang
paling menarik perhatian remaja Indonesia adalah fiksi. Bukan keberadaannya
baru saja hadir di tanah air, genre buku seperti ini pun sudah menjadi
kecintaan sejak dahulu. Sebagai contoh ada kisah cinta Minke dan Annelies di Bumi
Manusia yang dituliskan oleh sastrawan fenomenal Indonesia, Pramoedya
Ananta Toer. Buku tersebut sempat menimbulkan kontroversi karena dituliskan
oleh seseorang narapidana yang sebenarnya hanya ingin meluapkan imajinasi dan
pemikirannya di Pulau Buruh. Dari definisi menurut UNESCO tadi dapat dipetik
kemampuan mengidentifikasi sesuatu karya sastra sebagai sebuah panutan atau
mungkin menjadi pandangan pemikiran pembaca. Dalam konteks menciptakan, hal tersebut
dapat berarti bahwa setiap individu atau kelompok bebas dalam melampiaskan isi
hati dan imajinasi mereka dalam tulisan. Serta pada akhirnya menjadi sarana
mereka berkomunikasi kepada pembaca dan menjadi media hiburan.
Remaja cenderung
masih mencari jati dirinya. Transisi dari seorang anak-anak menjadi seorang
remaja bukanlah perjalanan waktu yang cukup mudah. Beda lagi ketika mereka
dihadapkan oleh berbagai permasalahan di lingkungannya. Menurut data statistik
dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan
tingkat literasi rendah. Dari data tersebut, memang tidak sepenuhnya adalah
keterwakilan remaja, namun itu adalah fakta yang menyedihkan. Tidak
disiapkannya generasi remaja, kurangnya pengiringan orang tua, nasihat-nasihat
guru yang lebih menekankan pada minat baca menjadi faktor-faktor yang cukup
membuktikan bahwa fakta itu benar. Tak khayal, bahwa kualitas tersebut
sebenarnya juga disebabkan oleh kurangnya panutan beberapa anak dari orang tua
atau guru mereka yang sering membaca.
Selera setiap
millennial dapat dipastikan berbeda. Keselarasan dalam menentukan suasana hati
sedang apa yang menjadi ketertarikannya juga menjadi suatu target pasar yang
cukup memuaskan bagi para penulis. Di beberapa tahun belakangan ini, sudah
banyak muncul sastrawan muda dan beberapa karya sastra yang menjadi trend
setter publik. Pemisalan yang sesuai adalah kehadiran novel trilogi Dilan
yang dituliskan oleh Pidi Baiq. Dapat dilihat bahwa latar belakang dalam cerita
tersebut adalah pada tahun 1990-an yang mana adalah tahun-tahun di mana orang
tua mereka pun masih sekolah. Namun apa yang terjadi, novel ini mengegerkan
publik dengan kelakuannya. Beberapa nilai positif yang dapat diambil adalah
kesederhanaan dalam pembuatan karya sastra. Pemilihan kata (diksi) juga harus
diperhatikan, termasuk dalam konteks penyampaian kalimat. Mengajak pembaca
untuk merasakan emosi penulis ketika sedang membacanya adalah suatu
keberhasilan karena sudah mampu mengkomunikasikan imajinasi secara langsung
melalui tulisan. Anak zaman sekarang tidak menyukai hal yang bertele-tele,
namun lebih memandang kepada bagaimana sebuah buku itu berpengaruh bagi
kehidupan mereka sehari-hari.
Gerakan Literasi
Nasional sudah dipopulerkan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan. Segala program-program kerja seperti membaca buku setiap pagi di
sekolah, menggenjot para siswa-siswi untuk berani berkarya, serta mendukung
mereka dengan moral dan materiil sudah dilakukan. Namun apa kenyataannya, masih
saja kualitas literasi di Indonesia masih kurang. Yang perlu diperbaiki adalah
ketersediaan sarana prasarana dalam memenuhi kebutuhan siswa-siswi dalam
membaca buku, yang juga termasuk dalam fasilitas perpustakaan sekolah yang
memadai, buku-buku yang mencukupi, serta pelayanan mereka saat sedang dalam
perpustakaan. Masih bisa disayangkan bahwa banyak perpustakaan tidak
mengizinkan pembaca meminjam buku mereka untuk dibawa di rumah. Banyak sekali
alasan dan jawaban, namun sudah seharusnya kita berprasangka baik terhadap
memberi dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan demi sumber daya manusia
Indonesia yang lebih baik.
Ajak anak-anak
bangsa untuk berkunjung ke perpustakaan. Di beberapa sisi, juga ada beberapa
orang yang hampir setiap minggu dia berkunjung ke toko buku untuk menambah
koleksinya. Dari alasan tersebut kita juga mengetahui, bahwa sebenarnya tak
semua manusia Indonesia yang tak mencintai buku. Menikmati karya sastra juga
tergantung pada selera, keinginan, dan waktu. Selera berarti terhadap genre
atau jenis buku apa yang membuat mereka menyukainya sehingga tidak bosan untuk
membacanya lembar demi lembar. Keinginan berarti mengapa mereka masih menetap
dan betah dengan kisah yang ada di buku tersebut yang mana pasti disertai
berbagai macam alasan. Dan kemudian waktu, yang berarti saat kapan saja mereka
sempat dalam membuka buku dan seberapa lama mereka memanajemen waktu luang
khusus untuk membaca. Sisi positifnya adalah bahwa buku telah menjadi sahabat
mereka sehari-hari. Dan ketika mereka datang menuju sebuah perpustakaan atau
toko buku, mereka akan senang ketika menghirup udara yang penuh dengan kertas.
Jadikan membaca
sebagai kebutuhan, bukan hobi. Dalam konteks ini, dapat dilihat bahwa banyak
sekali anak muda serta para orang tua dan guru menganggap membaca adalah sebuah
hobi. Dengan penilaian seperti itu, seseorang yang bisa dikatakan ‘kutu buku’
adalah orang yang serius dan monoton serta selalu terpaku hidupnya hanya untuk
belajar dari buku. Padahal, mereka sedang membuat diri mereka membuka pemikiran
dunia dan imajinasi dari buku tersebut. DR. Rajib Al-Sirjany dalam bukunya Al
Qira’ah manhajul hayah, beliau mengungkapkan “Dapatkah sebuah kegiatan
membaca menjadi sebuah hobi”. Dengan argumennya yang ringkas ia menjelaskan
esensi membaca serta mengupas urgensi membaca. Sebagai contoh, bisakah
seseorang mengatakan bahwa hobinya adalah minum air. Bukankah setiap orang juga
meminum air. Maka hal ini tidak dapat menjadi sebuah hobi, karena itu merupakan
sebuah keniscayaan bukan sebuah hobi. Secara istilah tersebut, sudah harus
dipastikan bahwa setiap anak bangsa harus diajak untuk senantiasa tekun
membaca, serta mengambil ilmu-ilmu bermanfaat yang ada di dalamnya.
Membaca secara
garis besar adalah kegiatan yang tak mungkin bisa terlepaskan dalam hidup.
Setiap hari kita berhadapan dengan aksara dan kalimat. Berbagai kata
bermunculan di depan mata dan pandangan menuju otak langsung mengolah informasi
apa saja yang masuk. Setiap usaha juga membutuhkan ilmu, oleh karena itu
dibutuhkan buku sebagai sumbernya. Dengan segala ilmu pengetahuan yang
tersedia, akan memudahkan pengembangan dalam berbagai bidang di dunia yang di
dalamnya termasuk teknologi, informasi, dll. untuk kepentingan masyarakat
khalayak banyak. Selain itu, juga menjadi media paling sederhana dalam mengubah
mindset seorang manusia untuk mengembangkan dirinya sendiri dengan
kecerdasan intelektual, emosional, hingga pada spiritual. Oleh karena itu,
membaca adalah kegiatan yang bermanfaat.
Indonesia sebagai
negara kepulauan dengan segala macam keberagaman, keunikan, dan kearifan lokal
harus menjaga kerukunan antar suku, agama, dan antar sesame manusia. Budaya
yang ada tidak boleh luntur hanya akibat informasi-informasi palsu (hoax)
yang bermunculan di masyarakat. Secara pasti, bahwa pengaruh negatif selalu
datang dan terkadang tak terhalang apalagi akibat berkembangnya teknologi
informasi dan internet. Dengan budaya literasi, pemikiran manusia Indonesia
akan menjadi lebih sadar kenapa dia hidup di dunia, untuk apa dia berada di
bumi nusantara, dan apa yang akan dia kontribusikan bagi bangsa. Mereka akan
lebih teratur dalam mengolah informasi dan menangkal kebohongan sehingga pada
akhirnya tidak akan terpengaruh oleh kesengajaan bangsa luar dalam merusak
persatuan Indonesia.
Dari semua
informasi yang sudah disampaikan dapat kita kutip bahwa untuk menjadikan
Indonesia negara yang kekuatan literasinya tinggi adalah dengan mengatur pola
pikir kepada yang positif, biarkan anak bangsa generasi millennial memilih
selera bacanya kepada sastra yang menarik perhatian mereka untuk membaca
asalkan itu positif, genjot mereka untuk membaca sekaligus menulis, ajak mereka
pergi ke perpustakaan dan toko buku, ajarkan memanajemen waktu luang untuk membaca,
jadikan membaca kebutuhan bukan sebagai hobi, dan berikan peluang untuk
berkontribusi bagi bangsa Indonesia serta pada akhirnya, mereka akan
mendapatkan keteraturan dan kenikmatan dalam memperoleh informasi dan
mengembangkan pemikiran.
Oleh karena itu,
generasi millennial tidak boleh lemah dan tidak boleh ketinggalan pemikirannya
dari anak-anak muda di luar negeri. Jauhkan diri dari pengaruh-pengaruh negatif
yang merusak serta manfaatkan waktu untuk membagikan informasi kepada
masyarakat. Berkontribusilah dengan cara masing-masing. Bacalah buku
sebanyak-banyaknya karena itu adalah jembatan ilmu. Dan hingga kita telah
membentuk bingkai baru bangsa Indonesia, generasi millennial akan membuat
Indonesia sebagai negara adidaya yang tak terkalahkan.

Comments
Post a Comment