Malam ini sama seperti biasanya, ada bulan. Di sekelilingnya banyak juga para bintang, entah ngapain mereka disitu. Mungkin karena bulan minta menemaninya di gelap yang kelam namun mungkin juga banyak alasan lain. Mereka tak ribut, mereka diam saja. Mungkin tak bisa bertahan menjadi patung tapi setidaknya mereka tidak mengeluarkan suara. Dahulu, memang nyatanya Nabiku pernah membelah dia. Aku tak pernah bertanya padanya apa sangat sakit. Apakah ada bekasnya, dan apakah terasa nyeri sampai kini. Mungkin dia tetap saja bersabar, toh itu sudah beribu tahun lalu.
Jika saja aku menyadarinya itu semua hanyalah untuk sebuah pembuktian. Di mana banyak orang tak percaya Tuhan. Mereka percaya, tapi tak yakin. Apa maksudnya aku pun tak tahu. Kurasa pun bulan tak mengetahuinya juga, mungkin hanya kegilaan yang bisa mereka andalkan. Padahal, Dia memang nyata adanya sebagai pencipta.
Apa tujuannya kita berada di antara gelap. Untuk apa sebenarnya. Hehehe, aku sadar juga. Tak mungkin kita sanggup merasa kepanasan terus-terusan di siang hari. Dan juga, Matahari punya jadwal ceramah lain di dunia sebelah. Mereka membagi waktu agar tak bertabrakan dan tak membuat diri kita merasa dingin dan panas secara bersamaan.
Itu saja sih malam ini, aku rindu padanya. Tapi aku lebih rindu pada Nabiku.
Itu saja sih malam ini, aku tak bisa melupakannya. Entah mengapa setiap kelam pasti ada pesan yang harus disampaikan. Ternyata pernah patah memang sakit, dan punya bekas. Tapi tak menjadi alasan dalam mengerjakan kewajiban, yaitu menyinari sang malam. Menyinari hatiku.

Comments
Post a Comment