I.
Perempuan
Nyata
Ezra
sudah pulang sekolah. Tadi di sekolah ia belajar, kayak biasa. Nggak ada something special, tapi ketemu seseorang saja dia sudah senang. Bukan
jauh-jauh, dia adalah seseorang yang dekat dengannya. Sang spesial, tersayang,
dan tercinta.
Yaitu
adalah pacarnya, Mayaleka. Perumpamaan hati yang pernah kosong, yang pernah
terisi dengan rintik-rintik air mata. Namun sekarang sudah terasa hangat dengan
kehadirannya. Memang belum lama mereka kenal, namun sudah saling mengerti satu
sama lain. Bukan hanya suatu status hubungan, namun juga sebagai sahabat karib.
“Bang
Ezra! Cepat turun makan malam!” teriak adiknya dari lantai bawah.
“Iya
tunggu sebentar Za!” jawab Ezra sambil berteriak.
“Hayo
ngapain, Mama masakin nasi goreng loh!” teriak adiknya lagi untuk mengambil
perhatian Ezra.
Saat
itu, Ezra sedang menelpon pacarnya di kamar. Makanya ia tidak bisa diganggu.
Mereka sering teleponan, namun hanya sekali-kali.
“Adek
udah makan?” tanya Ezra kepada Mayaleka.
“Udah
bang, abang makan gih. Si Rasyza dah sibuk teriak loh itu. Hahaha..” jawabnya
sambil tertawa.
Ezra
dan Mayaleka sepakat untuk melanjutkan pembicaraan setelah makan malam. Setelah
itu, Ezra menutup teleponnya dan segera turun ke ruang makan.
- - -
“Lama
kali turunnya nak,” kata Mama.
“Hahaha,
iya ma. Banyak tugas loh,” jawab Ezra sambil mengambil piring yang ada di dekat
lemari dapur.
Dia
mengambil nasi goreng dengan telur, menggunakan beberapa lalapan. Masakan Mama
memang enak, tapi kurangnya satu. Ia malas untuk masak. Namun sekali sudah
meracik, pasti sedap.
Ezra
duduk dengan Rasyza, adiknya. Sambil berbincang-bincang kecil tentang sekolah
mereka. Mereka berada di SMP yang sama di Kota Medan. Ezra duduk di kelas
Sembilan, tahun depan akan tamat. Sementara Rasyza masih duduk di kelas
delapan. Mereka hanya beda satu tahun umurnya.
Sementara
dengan Mayaleka, dia seangkatan dengan Rasyza namun berbeda kelas. Ezra mengenalnya
dari perbincangan mereka di sosial media. Mayaleka yang terlebih dahulu minta
berkenalan. Lama kelamaan menjadi dekat, dan akhirnya jadian.
“Udah
ya Ma, Ezra udah siap.” katanya sambil berjalan menuju wastafel dapur.
“Cuci
dulu itu piring sama sendoknya.” perintah Mama yang sedang menonton TV dengan
adiknya Ezra yang masih SD.
Ezra
mengangguk setuju dan segera mencuci piring bekas pakainya tadi. Setelah itu,
dia langsung berlari menuju kamar yang berada di lantai atas.
Kamar
Ezra berdinding biru, dengan perabot serba biru. Dia menuju meja belajarnya dan
duduk di kursi. Dia menggapai smartphone-nya
dan mulai membuka aplikasi yang ada di teleponnya itu. Sudah dalam rencananya,
ingin melanjutkan perbincangan dengan pacarnya tadi. Namun, ia memutuskan untuk
mengerjakan tugasnya terlebih dahulu.
Karena
tadi sudah permisi, ia bebas melakukan apa saja terlebih dahulu setelah makan.
Besok, ada tugas yang harus dikumpul dengan segera. Sebenarnya ini adalah tugas
kelompok, namun dia sudah membagikan tugas masing-masing dengan teman-temannya.
Malam
ini, semuanya harus dikerjakan dengan serius dan fokus. Tiba-tiba, ada
notifikasi yang masuk di telepon genggamnya. Mau tak mau, harus dia lihat
karena letaknya sangat dekat dengan tangan kanannya. Pikirnya awal pasti adalah
pacarnya. Karena pacarnya, Mayaleka adalah seorang yang cepat merindu. Hahaha.
Bukan,
ternyata bukan. Ini adalah notifikasi dari akun humas OSIS yang dikelola oleh
Ezra. Memang, Ezra aktif di organisasi sekolah. Mulai dari OSIS, Tim Penjaga
Lingkungan, dan di kelasnya pun ia menjadi ketua kelas. Ketika kelas delapan,
dia pernah mencalonkan diri sebagai ketua OSIS. Namun takdir berkata lain, dia
kalah saat pemilihan umum. Dia pun tetap diutus sebagai pengurus OSIS dengan
beberapa jabatan strategis.
Balik
lagi ke notifikasi tadi. Ezra mulai membuka pesan-pesan yang sampai di akun
itu. Di pesan paling atas, dia menemukan nama yang tak terlalu asing baginya.
Dia pun menekan layarnya untuk membuka pesan itu.
“Om,
kenapa PR harus ada?” katanya di salah satu bubblechat.
Tidak
dia hiraukan, Ezra hanya membacanya dan memutuskan untuk melanjutkan tugasnya.
Sebentar lagi selesai.
“Aku
nanya dikacangi maunya apa coba.” tiba-tiba notifikasi masuk lagi. Kali ini,
Ezra tersenyum sambil tertawa pelan. Apa sih mau anak ini, dalam pikirannya.
“Kenapa
banyak yang nanya itu.” aku mulai merespons pesannya dengan tambahan emotikon
datar. Tiba-tiba ia menjawab,
“Coz
aku galau, G a l a u dengan semua ini.” dengan kalimat alay itu.
“Karena
PR?” Ezra tanya dengan serius.
“Galau
karena U.” jawabnya. Yang dia pikir ini semua mulai aneh. Belum dijawabnya lagi
chat itu, cewek itu mulai nyeleneh kembali.
“Btw
ini siapa?” tanyanya. “Mba, pak, mas, tante?” lanjutnya lagi. Dia nggak tahu
yang menjawab pesannya siapa karena disitu Ezra bertindak anonim sebagai
administrator. Sebenarnya, dia pikir untuk apa dia memberitahu siapa dia. Namun
dia memutuskan untuk beritahu saja.
“Ezra
ini.” jawabnya tanpa sedikit pun emotikon atau pesan lainnya.
“Oooooo
ezra.” jawab sang cewek dengan huruf depan nama Ezra tidak kapital.
- - -
Nama
perempuan atau cewek nyeleneh tadi itu adalah Hayea. Anak kelas ujung,
seangkatan dengan Ezra. Tidak terlalu terkenal di kalangan anak-anak sekolah,
tapi lumayan cantik. Sebenarnya, Ezra pun juga belum berkenalan dengannya. Cuma
saling follow saja di Instagram. Post
Hayea dalam Instagram juga sangat bagus, yang terkadang membuat Ezra minder
untuk mau berkenalan dengannya. Entah karena kamera yang dipakai Hayea sangat
bagus sehingga jadi nampak berkelas atau juga hapenya mahal, dalam pikiran
Ezra. Pernah ada niat berkenalan, namun nggak jadi. Takutnya tidak direspons.
Secara
penilaian awal, Ezra mengira dia pasti adalah anak yang sombong. Karena nggak
terlalu muncul di sekolah. Muncul secara fisik pasti, iya. Ezra sering
melihatnya. Dia bukan makhluk gaib. Tapi kalau muncul secara gimana ya, kayak
ada lomba atau apa. Ezra nggak pernah melihatnya ikut dalamnya. Namun, satu
sih. Hayea pernah jadi anggota tim basket sekolah.
“Hayea,
pindah ke chat pribadi aja..” kata Ezra di dalam chat itu lagi.
“Oke
aku otw.” jawabnya.
Setelah
menunggu beberapa menit, Ezra tersadar ia belum menjawab pesan dari pacarnya.
Sempat niat untuk segera menjawabnya, tapi mungkin Mayaleka sudah tidur.
Kayaknya lebih bagus besok saja disapa lagi di sekolah. Chat dari Hayea muncul
di urutan paling atas.
“Zra, jomblo kan?” katanya tiba-tiba.
Ezra
bingung ingin menjawab apa, atau harus emang sebenarnya dia menjawab pertanyaan
itu. Mungkin bohong saja.
“Hmm,
iya hehehe.” jawabnya dengan tulisan tertawa yang kenyataannya tidak. For your Information, Ezra masih
backstreet pacarannya sama Mayaleka. Jadi dia masih takut untuk beritahu atau
tidak.
“Kasihan
deh.” jawab Hayea yang Ezra pikir pasti mengejek.
“Kayak
Hayea nggak aja.” jawab Ezra kembali untuk menyindir balik dia.
“Iya
sih, kan nggak apa-apa jomblo.” kata Hayea yang nampaknya mulai serius.
“Setuju!”
jawab Ezra dengan satu kalimat.
“Dah
malam, nggak ada yang bilang selamat tidur kan.”
“Iya,
kok tahu?” kata Ezra yang niatnya untuk sekedar ada hiburan.
“Yaiya,
jomblo gitu. Selamat malam.” jawab Hayea pada akhirnya.
-
- -
Cerita ini bukan tentang kisah cinta
anak remaja muda. Ini tentang persahabatan yang di antaranya pasti ada cinta.
Bahwa ketulusan perempuan itu nyata. –
mrafieakbar
II.
Hari
Pemilihan
Pacar
Ezra cantik, cuma dia yang tahu. Mungkin karena masih backstreet. Di belakang
jalan? Bukan. Maksudnya masih di belakang layar saja, belum mau ngasih tahu
siapa-siapa.
Ezra
pernah membuat daftar nama-nama prioritas yang tidak boleh sampai tahu kalau dia sedang pacaran dengan Mayaleka. Nama-nama
ini memang adalah orang yang dekat sama dia.
1.
Mama
2.
Papa
3.
Rasyza
4.
Pak
Dresyur
5.
Pak
Ginting
6.
Bu
Nino
7.
Nadira
dll.
Memang
banyak lagi yang ada dalam pikirannya jangan sampai ketahuan, tapi Ezra udah
capek menulis. Ezra sangat menyayangi Mayaleka, nggak tahu kenapa bisa jatuh
cinta. Mungkin masih darah anak remaja, jadi maunya cepat saja. Cepat punya
pacar, kayak teman-teman sepermainan lainnya.
Letak
kelas Ezra dan Mayaleka jaraknya tidak terlalu jauh. Ezra tinggal naik tangga
ujung sekolah, belok ke kiri. Nanti pasti ada nampak adik kesayangan-nya itu sedang duduk di depan kelasnya. Mayaleka
punya teman dekat yang lumayan gemuk, namanya Liza. Kerjaan Mayaleka dan
sahabatnya itu setiap hari sama, jalan ke kantin setiap istirahat. Beli pop ice
dan bakso bakar. Kemudian duduk di kursi dekat lapangan upacara.
Ezra
dipilih Pembina OSIS, Pak Dresyur, menjadi ketua komisi untuk pemilihan ketua
OSIS tahun ini. Dia lumayan bersemangat, karena dia diberi proyek yang cukup
bagus.
“Adek,
calonin jadi ketua OSIS ya?” tanya Ezra kepada Mayaleka di sekolah.
“Boleh
sih, tapi adek coba dulu daftar ya. Nggak yakin bisa.” jawab Mayaleka sambil
tersenyum pada Ezra. Liza juga ada di situ.
Tidak
lama, Ezra langsung mengambil sebuah kertas yang ada di map yang ia pegang. Itu
adalah formulir pendaftaran untuk pencalonan.
“Lah,
langsung bang?” tanya Liza tiba-tiba.
“Iya.”
“Za,
kita berdua pasangan aja kali ya?” tanya Mayaleka pada Liza.
“Ha?
yakin? Terserah kau aja.” jawab Liza.
“Udah,
cepet nanti ditulis ya. Abang tunggu senin besok kepastiannya.” kata Ezra yang
setelah itu langsung pamit ada pekerjaan lain.
Ezra
masuk ke dalam kelasnya. Ia duduk dengan teman-teman sekelasnya. Tiba-tiba, ada
dua orang lelaki, adik kelasnya, datang menghampirinya.
“Bang,
minta kertas pendaftaran untuk caketos.”
kata anak itu. Betapa terkejutnya ia, itu adalah adiknya sendiri. Rasyza akan
maju jadi wakil ketua OSIS bersama dengan temannya.
“Syaratnya
nggak apa-apa seangkatan kan bang?” tanya sang calon ketua, namanya Faiz.
Ezra
menjawab dengan kebingungan namun secara cepat,
“Iya
boleh. Memang tidak apa-apa untuk tahun ini. Kalau tahun lalu, harus
berpasangan dengan adik kelas.”
Faiz
anaknya berkharisma, pintar, dan badannya gemuk. Namun untuk masalah kegiatan
organisasi, dia memang sudah menjadi anggota OSIS dari tahun lalu. Rasyza pun
juga begitu.
Mayaleka
sebenarnya adalah strategi Ezra untuk lebih berperan di OSIS ke depannya. Di
tambah dengan Faiz dan Rasyza, pasti kali ini Ezra bisa membuat yang lebih baik
untuk OSIS sekolah tercintanya ini. Bukan apa-apa, di sisi lain Ezra juga
memiliki perbedaan pendapat dengan anggota pengurus lainnya, tapi dia tetap
setia untuk masih bergabung.
Belum
sempat ketemu Senin, Mayaleka mengabari bahwa ia tidak jadi mencalonkan diri
menjadi ketua OSIS. Ezra tidak mempermasalahkannya, mungkin karena ia agak
pendiam jadi mungkin susah untuk melakukan kampanye nantinya. Ezra telah
mendapat tiga pasangan calon. Dan beberapa minggu lagi pemilihan akan dimulai.
- - -
Tepat
1 Oktober 2016, pemilihan umum ketua OSIS akan dimulai jam delapan pagi.
Pemilihan begitu hebat persaingannya. Hari itu diisi dengan wajah-wajah datar
para calon ketua dan wakil ketua OSIS. Tak terkecuali adiknya Ezra, Rasyza.
Pemilihan ini dijamin oleh Ezra seratus persen jujur. Tidak ada KKN dan money politic di belakangnya.
Ezra
memantau dari setiap TPS untuk masing-masing tingkatan kelas. Di bagian kelas
delapan, ia melihat Mayaleka sedang mencoblos. Ezra mengodenya dengan deheman.
“Pilih yang bagus, sesuai hati nurani.” kata Ezra.
Mayaleka
pun hanya tertawa. Anggota pengurus OSIS hanya bekerja seperti apa tugas yang
seharusnya mereka kerjakan. Sang ketua OSIS, juga ikut melihat situasi
pemilihan yang dilakukan pada hari ini.
“Zra,
ada problem?” tanya ketua.
“Aman
bos, terkendali!” jawab Ezra dengan semangat.
Dalam
beberapa hal Ezra juga takut dan canggung. Pasti ada pihak yang menilainya
sedang melakukan nepotisme karena adiknya ikut mencalonkan diri. Namun ia tetap
saja pada jalan yang lurus dan biarkan saja orang-orang mengonggong.
Pemilihan
sudah selesai setelah satu setengah jam lamanya melaksanakan pemungutan suara.
Ezra mengambil alat-alat lainnya yang diperlukan untuk penghitungan suara.
Karena ada sekitar seribu lebih murid yang ada di sekolah ini, pasti ini akan
menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menghitung kertas-kertas ini.
Di
tengah-tengah penghitungan suara, keringat Ezra bercampur dengan cahaya dari
matahari yang membuat ia terus saja kepanasan. Hari mulai siang, dan dia belum
makan siang. Memang belum ada rencananya untuk pergi ke kantin. Karena
sebelumnya panitia dari OSIS sudah dijanjikan akan diberi konsumsi oleh pihak
sekolah. Mungkin karena itu, ia agak sungkan untuk beli. Hemat uang katanya.
“Selesai
semua!” teriak sang ketua OSIS.
Pemilihan
telah selesai. Wajah-wajah gugup menghiasi para calon ketua dan wakil ketua
OSIS. Betapa bahagianya dengan senyuman manis yang tertahan-tahan, Faiz dan
Rasyza ternyata menjadi pemenangnya. Mereka akhirnya naik ke atas podium
sekolah dan mulai berpidato atas kemenangan mereka. Ezra melihat mereka dengan
senang dan dalam hatinya sangat bersyukur.
Para
calon yang kalah pun tak langsung putus asa. Walaupun kalah, mereka tetap saja
menghias bibirnya dengan bentuk melengkung, senyuman. Mereka sudah ikhlas
dengan semua ini.
- - -
“Siapa
yang menang?” tanya seseorang perempuan menghampiri Ezra tiba-tiba.
Ezra terkejut tak karuan, karena ia sedang sendiri dan
mengangkat beberapa kursi yang tadi digunakan. Ternyata ketika ia memandang dengan
matanya, itu adalah Hayea.
“Hai, Zra!” katanya.
Ezra hanya terdiam dan tidak terlalu banyak berkata-kata. Ia
takut dilihat oleh pacarnya.
“Eh Hayea, iya hai!” kata Ezra dengan setengah semangat.
Karena ia juga sudah lelah dan kepanasan. Mereka berdua sedang berdiri di bawah
teriknya matahari.
“Btw, adik kamu
menang?” tanya Hayea.
“Hehehe, menang. Coblos siapa tadi?” kata Ezra dengan
senyuman kepo yang dibuat-buat.
“Satu.” jawabnya dengan datar karena menganggap tak
dihargai.
“Ooh, hahaha.” kata Ezra dengan tertawa yang datar.
“Adik Rasyza.” ucap Hayea lagi diikuti oleh senyuman
canggung.
Tak tersadari bahwa sudah beberapa menit mereka berdiri dan
panas terus saja makin membakar. Hayea pamit pada Ezra dan langsung balik ke
kelasnya. Sedangkan Ezra membawa kursi-kursi itu berjalan menuju kelas di mana
alamat asalnya berada.
Ezra langsung masuk ke dalam perpustakaan yang berada di
lantai atas dan teman-temannya sudah menunggunya untuk makan siang. Ia
mengambil nasi bungkus yang ada di atas meja dan langsung duduk lesehan dengan
seluruh anggota pengurus OSIS.
“Alhamdulillah, proyek kita pada hari ini telah berjalan
sukses. Saya mengapresiasi kinerja teman-teman semua yang sudah semangat dari
pagi hingga siang yang panas ini. Jaya!” kata ketua OSIS, teman seangkatan
Ezra.
“Terima kasih ketua..” kata Ezra tiba-tiba.
Setelah semua itu, mereka melanjutkan untuk makan siang.
Perut ini sudah sangat lapar karena kosong dari tadi pagi.
Di perpustakaan ini, ada Pak Dresyur, Pak Ginting, dan Bu
Nino. Mereka bertiga sangat menyenangkan. Tidak pernah satu pun anak di sekolah
ini yang membenci mereka. Walaupun Pak Ginting terkadang cerewet, dalamnya ada
kasih sayang yang tak terhingga. Bukan kejam. Saat ia sedang marah pun, para
murid pasti tertawa melihatnya. Hahaha.
Setelah beberapa menit dan Ezra sudah hampir menghabiskan
jatah makanannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
“Eh Hayea!” kata Bu Nino.
“Iya ma’am!” jawabnya. Bu Nino dan Hayea lumayan dekat. Juga
dengan beberapa teman Hayea yang lainnya karena kebetulan ia mengajar di kelas
mereka. Di antara ketiga guru itu, Pak Ginting sajalah yang masuk mengajar di
kelas Ezra untuk mata pelajaran Agama Islam. Kedua sisanya hanya dekat karena
sangat berperan di OSIS.
Hayea ternyata membawa dua teman dekatnya untuk mengambil
beberapa buku. Di perpustakaan ini, sangat banyak berjejer lemari penuh dengan
buku pelajaran maupun cerita. Di tengah-tengahnya ada ruang kosong yang dapat
digunakan sebagai tempat untuk bersantai. Dan juga dapat membaca buku, karena
ada meja lesehan disana.
Ezra hanya melihat Hayea untuk sebentar saja dan melanjutkan
memakan makanannya. Hayea telah mendapatkan buku yang dicarinya dan langsung
menulis di buku pinjaman. Pada awalnya Ezra mengira ia pasti akan duduk lama di
sini. Namun anggapannya salah. Secara cepat ia hanya meninggalkan nama di buku
tersebut dan meninggalkan sebuah senyuman kecil pada Ezra. Ia langsung keluar
dan permisi pada ketiga guru yang ada di perpustakaan.
Karena sekolah sudah pulang, Ezra dan Rasyza bergegas pulang
dengan berjalan kaki karena jarak rumah dan sekolahnya tak terlalu jauh.
Sesampai rumah, Ezra langsung mandi dan berbaring di tempat tidurnya.
-
- -
Jam maghrib sudah tiba dan langit senja yang tadi mulai
segera akan berakhir. Ezra terkejut saat melihat jam dinding yang ada di
kamarnya.
“Astaghfirullah! Nggak sholat Ashar!” teriaknya pelan
sendiri dalam kamar.
Tadi ia tertidur lelap dan terlanjur menikmati
mimpi-mimpinya. Jam petang pun sudah lewat dan bulan pun mulai muncul di
langit. Ia segera turun ke lantai bawah menemui Mama dan adik-adiknya. Terlihat
juga Papa yang mengucapkan selamat pada Rasyza yang telah memenangi pemilihan
tadi di sekolah. Ezra tersenyum sebentar dan menyapa Papa dan Mamanya kemudian
langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan ia langsung sholat.
Setelah selesai, ia duduk di ruang makan dan mengambil piring. Lauk pauk yang
dipersiapkan oleh Mama tampak lezat dan Ezra memakannya dengan lahap bersama
keluarganya itu. Rasyza tiba-tiba membilang, “Bang, besok Faiz mau bahas untuk
program kerja dia disini.” Ezra mengiyakan dengan menangguk perkataannya sambil
tetap mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Sehabis meminum air putih, ia
duduk sebentar dan akhirnya langsung naik kembali ke kamarnya yang berada di
lantai dua.
Dia rindu pada Mayaleka. Ezra dengan cepat menekan aplikasi
chat yang ada di smartphone-nya dan
langsung memencet kontak pacarnya itu.
“Halo adek!” ketiknya dalam ruang percakapan itu.
Tidak lama, hanya dalam beberapa menit Mayaleka langsung
menjawabnya.
“Malam abang..” jawabnya.
“Maaf tadi abang nggak ngechat ya..”
“Iya gapapa. Eh tahu nggak besok apa?”
“Hari minggu?”
“Iya betul -_-, tapi apa coba?”
“Coba apanya?”
“Tanggal dua yang kedua yak!”
“Oh, dua bulan. Hehehehe.” kata Ezra terakhir.
Mereka sudah berpacaran selama dua bulan. Besok resminya.
Dia tetap melanjutkan chat dengan Mayaleka untuk beberapa lama dan bahasan yang
tak ada batasnya.
Ezra tiba-tiba teringat seseorang. Perempuan yang tadi
dilihatnya lebih dari dua kali dan ada menyapanya. Hayea, iya Hayea. Entah
kenapa jadi kepikiran ke dia. Ezra merasa tidak enak perasaan karena tadi
terlalu cuek samanya. Dia memutuskan untuk chat dengan Hayea.
Ia memulai duluan.
“Malam Hayea.” kata Ezra pertama.
“Malam juga Ezra!” jawabnya yang tampak agak semangat.
“Maaf terlalu datar tadi ya.”
“Iya, nggak apa-apa.”
Ezra langsung menanyakan sesuatu dengan basa-basi.
“Tadi belajar di sekolah?” tanya Ezra.
“hmmm belajar.” jawabnya setelah beberapa detik. “Ezra?” dia
tanya balik.
“Oooh, Ezra gak ada masuk kelas sih. Hahaha.” jawab Ezra dengan
tertawa.
Hayea pun di ujung sana pun tersenyum.
“Jadi gimana menang? Jadi ketua OSIS?” tanya Hayea.
Ezra juga tersenyum di sini karena bersyukur atas kemenangan
adiknya.
“Hahaha, Faiz-Rasyza menang!”
Tiba-tiba Hayea nyeleneh, “Oo, jadi Ezra kalah ya?” yang
mana Ezra sudah berpikir dia mau mengejek.
“-_-iya, tahun lalu kalah.” jawab Ezra.
“Tetep semangat yah:)” kata Hayea.
Dalam hati Ezra, “Pasti ini anak mau buat aku jatuh.”
III.
Mengenal
Lebih Dekat
Ezra menjadi sedikit
lebih dekat dengan Hayea. Bukan karena apa-apa, Hayea orangnya seru. Nggak bisa
buat sedikit pun kebosanan dari setiap chat yang udah mereka bahas. Tetap saja
Ezra rutin mengobrol dengan pacarnya, Mayaleka. Tak ada gangguan di setiap hari
mereka.
Mayaleka anaknya agak pemalu. Di sekolah pun begitu, dia
juga pendiam namun parasnya cantik. Manis senyumannya, wajahnya pun juga
bercahaya seperti bidadari. Mereka masih berpacaran dengan sistem backstreet. Entah sampai kapan akan
terus begitu. Pernah ada beberapa waktu di mana Ezra terkadang cemburu jika ada
yang chat dengan Mayaleka. Karena orang-orang berpikir Mayaleka masih single.
Ezra takut kehilangan katanya.
Terkadang Ezra terlalu over-protective.
Makanya pada akhirnya terkadang terjadi hal yang tidak mengenakan. Pernah
berantem sama Mayaleka karena ada yang chat dia dari daerah Jawa. Padahal jauh,
namun Ezra selalu saja curiga.
-
- -
“Lagi sama siapa?” tanya Ezra pada Hayea lewat chat.
“Sendiri. Hahahaha.” jawabnya.
“Cie..” kata Ezra
Setelah itu, Hayea mengirim emotikon bergambar hati yang
terbelah dua.
“Yah, patah hati.” kata Ezra langsung menjawab.
“Bukan patah, Ezra.” jawab Hayea.
“Jadi?”
“Koyak.”
Ezra dari kejauhan tertawa kecil karena lelucon Hayea yang
tak masuk akal. Terdengar garing, tapi unik.
“Ezra..”
“Iya Hayea?”
“Langit terlalu bosan menghujankan rindu kepada yang
berteduh di bawah ketidakpastian." kata Hayea. Dan langsung lanjut,
“Dalam.” katanya lagi.
“Wah, siapa yang buat kata-kata itu?”
“Pastinya bukan aku!” kata Hayea dengan tanda seru. Hahaha.
Terkadang percakapan dengan Mayaleka suka datar. Mungkin
karena sudah terbiasa bagi mereka untuk setiap hari berbicara di sana dengan
banyak bahasan dan pada akhirnya habis materi. Hayea pun menjadi pilihan yang
lain untuk berbicara.
Suatu hari waktu sudah malam dan memasuki waktu Isya,
“Mauuuu sholaaat isya!” kata Hayea dalam chat.
“Yaudah sholat dulu.”
“Berjamaah yuk. Imamin, Zra!”
“Eh, gak boleh. Belum muhrim.”
“Lah, ini kan sholat. Bukan ngapa-ngapain.”
“Iya nggak boleh. Gak muhrim, haram.” jawab Ezra.
“Oo, halalin lah!”
Jawaban aneh itu menghantui pikiran Ezra dan membuat
mulutnya tertawa terbahak-bahak. Kayak orang gila tertawa sendiri di kamarnya.
Lantas Ezra menjawab lagi,
“Siapa yang dihalalin? Hahaha.”
“Rahasia Tuhan.” ketik Hayea.
-
- -
“Sendiri aja, Zra?” kata Hayea lewat chat (lagi).
“Nggak, barusan Rasyza temenin disini.”
“Eseh, ketua masok.” katanya dengan bahasa Medan.
“Hehehe.” jawab Ezra yang realitanya tidak tertawa.
“Dia ketua atau wakil?”
“Dia wakil, tapi dua bulan lagi sih pelantikannya.”
“Ooh, 20 des.” kata Hayea singkat.
“Ha? Emangnya kenapa tanggal itu?” kata Ezra.
“Hari saya netas. Hehehe,” jawab Hayea.
Barusan saja Ezra mengetahui kalau Hayea lahir pada bulan
Desember. Setelah itu, Hayea menanyakan kapankah tanggal lahir Ezra. Langsung
saja dia menjawab, 5 Juli.
- -
-
Ezra sedang duduk di taman samping rumahnya sambil mengetik
beberapa tugas yang harus segera ia kerjakan karena pada minggu depan akan
dikumpul pada gurunya. Dia duduk di sana bersama Rasyza. Adiknya itu sibuk
bermain game sendiri dan sangat fokus
melawan musuhnya. Sementara itu, Ezra yang meletakkan smartphone nya juga di samping laptopnya pun mulai membuka telepon
genggam itu.
Tak selang beberapa lama, ternyata ada pesan dari Mayaleka.
Seperti biasa, mereka selalu chat setiap hari. Hampir setiap menit, atau setiap
detik. Kecuali lagi di kamar mandi. Ini adalah hari minggu, biasanya Mayaleka
lama menjawab karena menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya.
Ezra pun akhirnya memutuskan untuk fokus mengerjakan
tugasnya saja. Tidak berapa lama, ada pesan yang masuk.
“Hahwjasjeyskska” pesan itu dikirim oleh Hayea.
Ezra menjawab, “???”
“Sori kepencet kucing saya.”
Ezra tersenyum sendiri sambil berpikir itu memang masuk
akal. Tapi,
“Serius?” tanya Ezra.
“Maaf saya tidak punya kucing. Hahahaha”
Dalam benak Ezra sambil tersenyum, “Candaan yang keterlaluan
Hayea.”\
Modus yang sangat aneh untuk memulai percakapan. Dan pada
akhirnya mereka malah beneran melanjutkan percakapan sehingga menjadi sangat
panjang.
“Eak, iya bener jangan chat orang banyak-banyak.” kata Ezra.
“Itu lagu Coboy Jr.” jawab Hayea.
Ezra berpikir sejenak dan mengetik ini pada pesannya,
“Kau bidadari jatuh dari surga di hadapanku. Eeaaa”
“Eh, Cuma nyanyi ya Hayea!”
“Hahaha. Iya saya tahu.” ucap Hayea yang seperti orang-orang
resmi berbicara, tapi ini pesan ketikan.
“Kalo cewe bidadari, cowo apa ya Zra?” lanjutnya.
“Aku gak tahu. Hehehe.”
“Oh, Bidadara. Kau bidadara jatuh dari surga!”
Yang Ezra lakukan hanyalah tersenyum sendiri dan tertawa
kecil ketika membaca pesan chat dari dia. Selalu.
-
- -
Hari ini hari sekolah. Kelas Ezra selalu ribut, sebagaimana
mestinya hampir kondisi sekolah di wilayah Nusantara kalau guru tidak masuk
kelas. Sebelum memulai pembelajaran, biasanya ada kegiatan literasi. Yaitu
membaca buku selama 15 menit. Kualitas literasi anak-anak Indonesia masih
kurang, sebenarnya itu memang terbukti dan itu fakta! Buktinya ketika ada guru
saja mereka membaca buku. Ketika ada guru pun, buku itu hanya sebagai penutup
untuk smartphone.
Langit sedikit mendung di luar. Udara kelas yang ac-nya tidak hidup pun menjadi sejuk.
Tak ada yang kepanasan dengan PR matematika yang belum selesai. Guru matematika
kelas itu cukup kejam. Tidak kejam, namun sifat bawaannya yang kejam membuat
situasi kadang selalu panas walaupun air hujan turun dari langit. Kali ini
tidak, karena ada seorang lelaki penyelamat yang memberikan jawaban pekerjaan
rumah mereka! Siapa lagi kalau bukan Ezra!
Ezra bukan anak yang terlalu pintar, tapi dia selalu ranking
di kelas. Ada dua orang anak lagi, Chris dan Aiz yang selalu menjadi
kompetitornya Ezra di bidang akademik sekolah ini. Ketika mereka kelas 7 SMP,
Aiz selama dua semester mengambil ranking satu dan diikuti oleh Ezra, kemudian
Chris di urutan dua dan tiga. Ketika kelas 8 SMP, Chris mengambil posisi
mengalahkan Ezra dan Aiz di ranking dua dan tiga selama dua semester. Nah,
kelas sembilan gimana?
“Nanti aku kali ini ambil alih, kasih giliran ya bro,” kata
Ezra pada mereka berdua.
“Jangan mimpi kau Ezra bodoh!” bilang Aiz.
“Iya, sok kali bah! Nggak akan mungkin.” kata Chris
melanjutkan sembari langsung tertawa dengan Aiz. Ezra hanya tertawa kecil
karena mungkin berpikir itu hanyalah imajinasi dia yang bisa jadi tercapai,
bisa jadi hanya andai-andai.
Ezra adalah ketua kelas, yang biasanya orang-orang bilang
anak pendiam yang tak tegas. Namun perlu kalian tahu. Kalau dia sudah marah,
teriakannya bisa mengalahkan pemimpin upacara di Istana Negara setiap 17
Agustus. Dalam sekejap semuanya bisa terdiam dan tidak ada yang berani
berbicara. Kadang dia juga disepelekan tapi dia kuat kalau berniat balas
dendam. Bukan balas dendam dengan cara yang negatif, tapi kebalikannya. Dia
bisa balas dendam dengan cara yang sederhana!
Pernah sekali dia dinilai seorang adik kelas, dia takkan
mampu menjadi pemimpin upacara. Tapi dia tetap mencoba, dan akhirnya menjadi
juara satu di antara semua pemimpin upacara lainnya yang pernah memimpin setiap
senin.
Chris suka bernyanyi, dia juga sering latihan band dengan
Ezra yang juga hobi bernyanyi. Tak jauh dari sekolah ada sebuah studio di mana
mereka melatih kemampuan mereka. Jujur saja, Ezra tak bisa memainkan alat music
satupun! Kecuali gendang untuk band nasyid yang pernah ia ikuti ketika SD.
Kalau Aiz, pandai bermain piano. Juga termasuk keyboard. Ia
adalah anak yang jenius. Bersama Chris terkadang mereka suka membuat lagu di
salah satu software musik. Mereka
berdua suka genre EDM, lagu anak zaman sekarang. Aiz juga sangat pintar dan
bercita-cita menjadi seorang dokter.
“Zra, kau jangan sibuk terus di OSIS. Nanti gak lulus
gimana!” kata Aiz.
“Bukan masalah loh itu, OSIS kan cuma organisasi.” jawab
Ezra.
“Tapi kan ganggu jam pelajaran kau, sering kali kau tinggal
jam wahai ketua OSIS gagal!” hina Aiz lagi. Hahaha, Ezra hanya menanggapinya
dengan santai dan tertawa. Ia tahu teman-temannya ini tidak bermaksud terlalu
serius, buktinya mereka tetap peduli dengannya karena jam pelajaran terganggu.
Namun, benar juga kata mereka. Tapi Ezra sudah terbiasa dengan kesibukan yang
melanda hari-harinya.
“Dia melihat foto
porno!” kata seorang teman Ezra dalam kelas yang diikuti tertawaan satu kelas.
Sementara pada saat itu wali kelasnya, Ibu Magda sedang mengajar mata pelajaran
Bahasa Indonesia.
Dengan sigap dan tegas, Ibu Magda langsung memarahi pelaku
yang berteriak tadi dan langsung mengumpulkan smartphone siswa-siswi yang ada di kelas itu. Sebenarnya, teriakan
tadi hanya candaan. Karena keisengan teman Ezra yang suka usil itu. Sebut saja
namanya Sarsar, laki-laki empat belas tahun.
Sarsar adalah anak usil, pintar (kadang) di bidang
mengganggu dan intelijen di bidang perutangan. Bisa hampir puluhan rupiah uang
kawannya ia pinjam. Ia juga membuka jasa pembelian makanan di kantin jika pada
waktu istirahat.
“Sar, belikan aku nasi pake
ayam goreng tambahin mie ya!” kata Ezra padanya.
“Siap! ongkir Rp 2000,.” jawabnya langsung.
“Iya nanti, beli aja dulu. Ini uangnya.”
Ezra terkadang suka hampir tidak bisa ke kantin kalau tugas
sedang menumpuk. Namun, ia tetap sempat melihat Mayaleka yang suka duduk di
kursi dekat kelasnya sambil berdiri dekat jendela. Memastikan tidak ada cowok
lain yang datang padanya.
Kadang, ia juga bisa makan di kantin. Melihat dari kejauhan
Mayaleka yang pemalu dan tak banyak bicara. Wajar, masih backstreet harus menjaga jarak agar tak ketahuan. Bahaya, nanti
banyak yang cemburu sama Mayaleka.
-
- -
Ezra dipanggil oleh ketua OSIS dan ditawarkan proyek
terakhir di masa jabatannya yang akan segera diganti. Ia diminta untuk
menghadap kepala sekolah mengenai program ini.
“Gimana programnya, Nak?” tanya Bapak Kepala Sekolah.
“Begini pak, kita mau buat pengumpulan sumbangan untuk
masyarakat sekitar sekolah kita ini.” jawab Ezra.
“Ide yang bagus! Kalian persiapkan surat edarannya untuk
siswa-siswi sekolah kita ya.”
Langsung saja mereka berkoordinasi dengan Pembina OSIS, Pak
Dresyur, untuk menindaklanjuti ide ini. Pak Ginting juga berniat membantu
mereka dan begitu pun Bu Nino. Surat edaran sudah diedarkan dan semuanya
berjalan dengan lancar.
“Pengumpulan sumbangan kita buat gimana ya?” tanya Ketua
OSIS pada Ezra sambil menggaruk kepalanya kebingungan.
“Kita
minta tolong sama anggota yang lain untuk melaporkan perkembangannya.”
Anggota pengurus OSIS di sekolah mereka ini cukup
banyak, dan pasti mampu mengatur semuanya. Hari pengumpulan sumbangan pun
dimulai!

Comments
Post a Comment