Yang berperan
jadi sang cahaya di tengah kegelapan
Membawa petunjuk
bagi aku yang tak mengerti arah
Dan menjagaku
dari sudut-sudut kejelekan dunia
Teringat suatu
masa dahulu
Bersuaralah isak
tangisan
Teriakan dan
gebrakan seorang anak bayi lucu
Namun ada dia
seorang, yang hanya mampu menenangkan
Terjatuhlah aku
di tanah bumi karena gravitasi
Bersama
kaki-kaki kecil yang belum bisa menopang
Berulang-berulang
terjatuh
Berulang lagi
tangisan dari air mataku
Umpama sang
matahari dan rembulan
Selalu kurasa panas-hangatnya
siang dan dinginnya malam
Walau hanya
dingin diam, dia membuatku nyaman
Nyaman dalam
pelukan hangatnya yang tak dapat tergantikan
Dan tetap dia
seorang, yang hanya mampu menenangkan
Mungkin ia sudah
lelah melihat tingkah laku dariku
Aku yang
ciptakan setiap tetes air mata kala kegelisahannya
Aku yang suka
memberontak dan berteriak-teriak
Namun dia hanya
tersenyum lebar, menatap dengan sabar
Tentang perasaan
tentram atau hanya pura-pura diam
Yang kusadari
aku adalah orang yang sombong
Tatkala
berjalannya waktu, dia pun akan hilang
Orang bilang
kasih ibu sepanjang jalan, dan jalanmu itu tak pernah retak sepanjang masa
Dan selalu dia
seorang, yang hanya mampu menenangkan
19122017 -
mrafieakbar
Puisi ini berhasil meraih Juara I lomba 'Menulis untuk Ibu' tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh GAMA Event Organizer, Indonesia Youth Icon, On The Stage pada Desember 2017.

Comments
Post a Comment